Tampilkan postingan dengan label asmaradana terlarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asmaradana terlarang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 April 2014

Asmaradana Terlarang (21)

Sebuah bus berjalan tak terlalu laju menuju arah timur di jalan tol Jakarta – Cikampek, di antara ribuan kendaraan yang harus saling berbagi ruang di seluruh lajur jalanan itu. Dua jam lalu bus itu meninggalkan Tangerang yang akan mengantarkan para penumpangnya menuju kota-kota di pantura Jawa Tengah: Semarang, Demak, Kudus dan Pati. Jika perjalanan lancar, 10 jam kemudian bus akan tiba di tujuannya.

Sundari tak dapat menahan gejolak di pikirannya. Setelah sekian tahun, ia akan kembali lagi ke kota kelahirannya. Seharusnya ia merasa senang karena akan bertemu Pak’e, Sutari dan keluarganya, juga Satriyo yang sudah datang terlebih dahulu. Namun justru kegusaran yang malah kini sedang ia rasakan. Kenangan-kenangan kelam masa lalunya kini menghampirinya kembali.

***

Langit sore sudah mulai kehilangan cahaya di Desa Kemiri. Awan gemawan di atas sana mulai berpendaran warna kuning jingga. Hawa panas telah berkurang, dan tiupan angin perlahan memberi rasa sejuk.
Sundari, Sutari dan kedua orang tuanya tengah berada di depan rumah, duduk di bangku kayu yang ada di situ. Dari bahasa tubuh dan mimik muka, mereka terlahit sedang menunggu sesuatu. Atau mungkin seseorang.

“Sudah setengah enam, kok Mas Bas belum sampai ya?” kata Sundari dengan nada cemas.

“Mbok ya sabar, Nduk. Mungkin masih di jalan. Lha namanya jalan kaki, ya pasti ndak bisa cepat sampai rumah,” kata ibunya.

“Bukan begitu, Mak’e. Meskipun cuma jalan kaki, paling lama juga dua jam sudah sampai. Lha ini sudah jam segini belum kelihatan,” kata Sundari sambil memegangi perutnya yang besar.

***

Gubug kecil itu tersembunyi di tengah rapatnya pohon pisang dan kelapa yang mengelilinginya. Letaknya yang jauh dari pemukiman memang membuat gubug itu tidak setiap hari didatangi pemiliknya. Malah sepertinya gubug itu mungkin sudah lama ditinggalkan oleh yang punya jika melihat kondisinya yang berantakan.

Sebuah mobil berada tak jauh gubug itu, tepat di tepi jalan tanah tak terlalu lebar yang menjadi satu-satunya jalan masuk ke gubug itu dari jalan raya yang berjarak hampir 1 kilo jauhnya. Sekelompok pria ada di tempat itu, sebagian berdiri dan sebagian duduk begitu saja di tanah tanpa beralaskan sesuatu. Sementara satu orang berbadan langsing terlihat tergeletak di atas tanah, tak bergerak. Kedua tangannya terikat tali. Dan kepalanya tertutup oleh kain hitam.

“Mau kita apakan dia?” tanya salah satu orang di antara mereka. “Kenapa tidak dihabisi saja sekarang?”

“Jangan sekarang. Tunggu sampai dia sadar dahulu, “ kata seorang yang lain dengan suara agak berat.

“Apa bedanya saat dia pingsan atau saat sadar? Toh kita bisa lebih mudah dan lebih cepat menghabisinya saat dia tak berdaya begini. Lalu tugas selesai”

“Justru itu. Dia tidak akan merasa sakit dan tersiksa jika kita melakukannya sekarang. Tunggu beberapa menit lagi!”

***

“Pak’e tadi pagi sempat ke kantor polisi kan?”

“Iya, aku mampir ke situ sebelum ke pasar. Aku ketemu Baskoro dan dia bilang siang ini bebas. Lalu aku ke pasar dulu.”

“Lha pulangnya kenapa Mas Bas kok ndak dijemput?”

“Pulang pasar aku ke kantor polisi lagi, mau jemput Baskoro. Tapi dia sudah ndak ada. Kata petugas di sana, sudah sejam sebelumnya pulang.”

Perbincangan sore itu terhenti. Seseorang dengan sepeda motor datang ke rumah itu.

“Selamat sore, Pak Sugiri,” sapa pria itu.

“Oh selamat sore, Pak Prapto. Mari masuk!”

“Oh tidak usah repot-repot. Saya hanya mampir sebentar,” kata pria berseragam polisi itu. “Baskoro sudah sampai rumah kan?”

***

Perlahan pria yang tergeletak itu mulai bergerak. Terdengar rintihan dari balik kain penutup kepalanya itu. Dan tiba-tiba sebuah tendangan mendarat di perutnya.

“Aaarrrhhh,” teriakannya terdengar.

“Bangunkan dia! Buka tali di tangannya dan penutup kepalanya!”

Lalu dua orang memegang tubuh pria naas itu, dan membimbingnya dengan kasar untuk berdiri. Tali pengiat tangannya pun dibuka, juga kain yang menutupi kepalanya.

“Apa kabar Baskoro?”

Baskoro mengenal suara itu, suara yang sudah tidak asing baginya. Baskoro tidak bisa melihat wajahnya karena hari sudah gelap, juga karena masih merasa pusing di kepalanya.

“Kamu.. “ Baskoro mencoba berbicara kepada orang yang ada di depannya itu.

Namun tiba-tiba sebuah tinju mendarat di kepalanya. Baskoro kehilangan keseimbangannya dan terhuyung-huyung. Belum sempat ia menegakkan kepalanya, pukulan demi pukulan kembali mendera dirinya.

Suara pukulan dan tendangan terdengar di gubug kecil itu. Rintihan dari Baskoro yang kian melemah sayup terdengar di antara umpatan manusia-manusia yang sedang kalap.

Hari semakin gelap. Tak ada suara angin yang menyusupi dedaunan. Tak ada juga bunyi serangga atau kodok. Sepertinya mereka terdiam menyaksikan kebiadaban yang tengah berlangsung saat itu.

(bersambung)

Asmaradana Terlarang (20)

“Barang-barangnya ndak ada yang ketinggalan, kan?”

“Ya, ndak ada, Pak. Lha saya hanya bawa baju yang saya pakai di badan ini.”

“Apa ndak sebaiknya nunggu keluargamu dulu? Biar ndak sendirian di jalan.”

“Ndak apa-apa, Pak.”

“Yo wis kalo begitu. Hati-hati di jalan.”

“Matur nuwun, Pak. Saya permisi.”

Baskoro menjabat tangan lalu berpamitan kepada Suprapto yang siang itu melepasnya dari tahanan. Dua hari lamanya Baskoro di tempat itu, tanpa mengerti apa alasan yang membuatnya ditangkap. Mungkin salah paham, atau ada orang yang memang berniat tidak baik. Entahlah.

Setelah melewati gerbang kantor polisi, Baskoro menyeberang jalan raya yang hanya dilewati satu-dua kendaraan siang itu. Lalu ia bejalan ke arah timur dengan langkah yang tak terlalu cepat. Hawa panas kota Pati membuatnya beberapa kali menyeka keringat yang meleleh di dahinya.

Ia masih menduga-duga siapakah yang berada di balik kejadian yang dialaminya. Ia tak pernah merasa memiliki musuh selama ini. Sepengetahuannya, ia bersikap baik kepada semua orang yang ditemuinya. Tak pernah ada yang merasa terganggu dengan sikapnya. Semua baik-baik saja.

Atau mungkin … Krisno? Ya, mengapa Krisno ada di kantor polisi kemarin? Bukankah Krisno satu-satunya orang yang selama ini bersikap tidak baik kepadanya? Apa mungkin anak petinggi desa Kemiri itu yang membuatnya harus ditahan di kantor polisi beberapa hari karena sesuatu alasan?

***

Hampir satu jam lamanya Baskoro berjalan, dan tak lama lagi ia akan berbelok dari jalan raya ke jalan desa menuju rumah. Kembali disekanya keringat yang kali ini tak hanya membasahi dahi, tapi juga pipi dan dagunya. Malah baju yang dipakainya kini sudah mulai basah.

“Ngaso sebentar dulu,”

Baskoro bergumam ketika ia berada di dekat sebuah pohon asam yang lumayan besar. Ia pun menghampiri pohon asam itu, lalu sengaja duduk di bawahnya dan meluruskan kedua kaki untuk sekedar melepas lelah beberapa menit saja.

Gegaraning wong akrami
Dudu bandha dudu rupa
Amung ati pawitane

Sebuah tembang yang sangat digemarinya pun terlantun dari mulutnya. Senyum kecil mengembang di wajah kurusnya. Ia teringat tembang itulah yang berhasil memesona seorang gadis cantik di Desa Kemiri beberapa tahun lalu. Lau sebuah kisah asmara terjalin antara kedua anak manusia. Hingga akhirnya asmara itu membawa keduanya masuk ke hubungan yang lebih jauh lagi sebagai suami dan istri.

Luput pisan kena pisan
Lamun gampang luwih gampang
Lamun angel, angel kalangkung
Tan kena tinumbas arta

Kembali Baskoro menggerakan tangannya ke wajah, namun kali ini ia tidak menyeka dahi atau pipinya karena keringat. Laki-laki bermata lebar dan hidung bangir itu menyeka air yang membasahi kedua sudut matanya. Matanya berkaca-kaca mengenang masa-masa yang telah dilaluinya bersama Sundari.

Hampi lima belas menit Baskoro larut dalam suasana haru yang menguasai perasaannya. Lalu ia bangkit dari duduknya, dihirupnya nafas dalam-dalam. Setelah merasa cukup tenang, segera diayunnya langkah meninggalkan pohon asam dan kembali menyusuri jalan yang sepi itu. Tinggal beberapa puluh meter lagi ia akan sampai di jalan menuju desanya.

Sengaja Baskoro mempercepat langkahnya. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah-langkah kaki di belakangnya. Belum sempat ia menoleh ke belakang dan mencari tahu siapa yang ada di sana, tiba-tiba saja …

“Huppp…”

Baskoro tidak bisa melihat sekelilingnya selain kegelapan. Ia panik, berusaha meronta-ronta untuk membuka benda yang menutupi kepalanya. Namun tampaknya ia kalah kuat. Tenaganya tidak mampu melawan. Sepertinya ada dua orang atau lebih yang membekap tubuhnya.

Samar kedengaran oleh Baskoro suara mesin sebuah kendaraan yang mendekat. Baskoro semakin mengerahkan tenaganya untuk melawan. Dalam kegelapan yang dilihatnya, ia pergunakan kedua kakinya dan berusaha menendang kesana-sini tak tentu arah.

“Buk… buk… bukk…”

Dua-tiga pukulan mendarat bersamaan mengenai kepala dan perut Baskoro. Sekonyong-konyong Baskoro merasakan mual dan pusing. Ia juga menahan sesak di dadanya. Hingga kemudian tubuhnya melemas dan ia sudah tidak sadarkan diri.

Minggu, 09 Februari 2014

Asmaradana Terlarang (19)

Matahari sudah mulai meninggi dan menghangatkan kota Pati. Sebuah kantor polisi yang berada beberapa puluh meter di timur alun-alun terlihat ramai seperti hari-hari sebelumnya. Beberapa petugas sedang berjaga di pos bagian depan.

Di ruangan lain, dua orang pria duduk di lantai yang disemen. Sebuah terali besi memisahkan kedua pria itu.

                “Sejak kapan kamu pakai tato?” tanya Aji. Lelaki paruh baya itu tak dapat menyembunyikan kemarahannya kepada Baskoro.

                “Eh.. anu,” Baskoro gelagapan mendapat pertanyaan itu. “Sudah tahun lalu, Pak Lik.”

                “Siapa yang membuatnya?”

                “Teman-teman kethoprak.”

                “Jadi teman-teman kamu juga  tatoan seperti kamu?”

                “Tidak, Pak Lik. Cuma saya yang pakai tato. Ini juga untuk iseng saja.”
               
***

Di ruang lain, Suprapto tengah duduk dan membaca beberapa berkas yang ada di meja. Sebuah gelas berisi kopi yang berada di depannya tinggal berisi setengahnya.

                “Selamat pagi, Ndan,” sapa seorang petugas di depan pintu. “Ada yang mau ketemu.”

                “Pagi. O, ya. Lima menit lagi suruh masuk,” jawab Suprapto. Ia kemudian mengambil gelas kopi dan mereguk isinya, lalu melanjutkan membaca berkas.

Sebuah ketukan di pintu terdengar. Seorang lelaki masuk setelah sebelumnya mengucapkan salam singkat.


                “Selamat pagi,” kata Suprapto. “Silakan duduk Nak Krisno.”

                “Matur nuwun, Pak,” jawab lelaki yang bernama Krisno itu.

***

                “Aku tidak habis pikir, kanapa kamu bisa melakukan tindakan bodoh seperti itu,” Aji masih belum bisa meredam kemarahannya. Sementara Baskoro terdiam tidak tahu harus menjawab apa. “Apa kamu tidak tahu kalo tato itu bisa mendatangkan bencana bagi kamu? Banyak preman dan gali yang sekarang ketakutan dan berusaha menyembunyikan dan menghapus tato di tubuhnya. Eh, kamu kok malah tatoan. Mau bunuh diri?”

                “Maaf, Pak Lik.”

   “Apa kamu tidak dengar kalo tahun ini banyak gali yang tiba-tiba menghilang secara misterius. Gali-gali banyak ditangkap orang tak terkenal. Lalu tahu-tahu sudah ditemukan di tepi jalan, hutan atau di mana saja dalam keadaan meninggal dengan luka tembak atau terkena senjata tajam di seluruh tubuhnya?”

Baskoro gemetaran mendengar perkataan Aji. Sungguh ia tidak bakal mengira bahwa gambar yang terukir di pinggangnya itu akan menyeretnya masuk ke dalam bui. Bahkan ia tak pernah berpikir bahwa kini nyawanya juga berada di ujung tanduk.

Baskoro sangat ketakutan dan khawatir. Khawatir bukan hanya terhadap dirinya, tetapi juga terhadap nasib istrinya. Apalagi saat ini Sundari dalam keadaan mengandung dua bulan.

***

“Aku tidak menemukan catatan kejahatan yang pernah dilakukan oleh Baskoro. Dia bersih,” kata Suprapto.

“Bagaimana dengan tato itu?” tanya Krisno. “Bukankah itu perlu dicurigai?”

“Aku sedang memeriksanya. Nanti akan tahu apakah Baskoro bersih atau tidak.”

“Saya mohon Bapak tidak berlambat-lambat. Saya khawatir nanti akan terjadi hal-hal yang tidak baik di masyarakat.”

“Aku sudah meminta kesaksian dari warga soal Baskoro. Semuanya bilang tidak ada masalah. Baskoro pemuda yang baik dan sopan. Dan aku tidak akan gegabah dalam menangani hal ini.”

“Tapi Pak, bukankah sudah seharusnya gali-gali bertato dilenyapkan saja dari masyarakat? Ini demi keamanan, Pak.”

“Kalo memang benar gali, tentu Baskoro akan ditindak. Aku kebetulan sangat mengenal baik pemimpin  kethoprak tempat Baskoro main. Dan aku percaya Pak Aji bisa menjaga Baskoro dan anak buahnya yang lain tetap berlaku baik di masyarakat.”

“Jadi, gimana kelanjutan laporan saya Pak? Apa Baskoro akan bebas begitu saja?”

“Tenang saja, Dik Krisno. Pemeriksaan masih terus dilanjutkan.”

Suprapto mengakhiri pembicaraan itu dan meminta Krisno untuk meninggalkan ruangan. Polisi itu melihat ada sesuatu di mata Krisno. Semacam kebencian, atau dendam pribadi di sorot mata pemuda Desa Kemiri itu. Tak sukar bagi seorang reserse seperti Suprapto untuk bisa menangkap hal-hal seperti itu.

***


                “Jadi, gimana Lik. Apa Pak Lik bisa membantuku?” tanya Baskoro.

                “Hhhh... baik, aku akan mencoba bicara dengan Suprapto. Mudah-mudahan dia bisa membebaskan kamu, jawab Aji.

                “Matur nuwin, Lik.”

                “Baik, aku akan menghadap Suprapto. Mudah-mudahan ia ada di ruangannya.”

Aji pun meninggalkan Baskoro. Dari ruangan itu, pandangan Baskoro terus mengikuti Aji hingga akhirnya menghilang di belokan ruangan.
Tapi, hei, Baskoro melihat seseorang yang sedang berjalan di kejauhan sana. Meski hanya sebentar melihatnya, Baskoro sangat mengenal sosok itu.

                “Krisno? Mengapa dia ada di sini?”

                

Senin, 03 Februari 2014

Asmaradana Terlarang (18)

Hawa gerah menyelimuti ruangan kecil itu. Beberapa kali Baskoro menyeka keringat yang mengalir di wajahnya. Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba saja ia harus mengalami kejadian yang tak dimengertinya sore tadi.

Tiba-tiba di tengah perjalanan pulang, ia dihentikan oleh seorang polisi. Setelah melalui tanya jawab singkat yang tak juga memberikan kejelasan mengenai kesalahan apa yang telah dilakukan Baskoro, ia akhirnya dibawa ke kantor polisi.

Hari mulai malam di bulan Agustus yang gerah itu. Sugiri dan Aji datang ke kantor polisi untuk menjenguk Baskoro. 


                “Jadi sampai sekarang kamu belum tahu salahmu apa?” tanya Sugiri.

                “Iya Pak’e. Polisi yang menangkapku tadi cuma ngomong kalo ada laporan yang mencurigai saya terlibat kelompok kejaharan. Kejahatannya apa, tadi tidak dijelaskannya. Saya diminta ikut dulu ke kantor untuk diperiksa,” jawab Baskoro.

                “Lha kok aneh sekali.”

                “Iya aneh. Sampai sekarang masih belum juga ada petugas yang datang untuk menjelaskan hal itu.”

Aji yang dari tadi diam, akhirnya ikut bergabung berbicara dengan anak dan mertua itu.


                “Ini sudah malam. Sebaiknya kamu pulang dulu, Giri. Biar istri dan kedua anakmu di rumah tidak khawatir. Jelaskan saja Baskoro baik-baik saja. Aku disini yang nanti ngurusi masalah Baskoro,“ kata Aji.

                “Nanti saja, Ji. Biar aku tahu permasalahannya dulu, baru aku akan pulang,” jawab Sugiri.

                “Tapi ini sudah malam, dan sampai sekarang juga belum ada kejelasannya. Kasihan keluargamu di rumah, sebaiknya kamu pulang dulu dan bisa kembali besok pagi.”

“Ya sudah kalo begitu. Semoga kedaannya baik-baik saja. Aku pamit dulu.”

Sugiri pun meninggalkan ruangan itu dan tinggallah Aji dan Baskoro. Tak lama, datanglah seorang petugas bertubuh ramping dan berpakaian seragam.

                “Selamat malam,” sapa pria berseragam itu.

                “Selamat malam,” jawab Aji dan Baskoro hampir bersamaan.

                “ Baskoro..., “ lanjut petugas.

                “Saya, Pak,” jawab Baskoro. “Mohon penjelasannya mengenai permasalahan ini, Pak. Saya melakukan kesalahan apa?”

                “ Sabar dulu. Saya akan menanyai dan menulis data-data pribadi. Nanti ada petugas yang akan menjelaskan apa yang Baskoro tanyakan tadi.”

Pria berseragam itu pun mengajukan sejumlah pertanyaan dan menulis jawaban yang dikatakan Baskoro pada selembar kertas.

Beberapa menit kemudian datang pria berseragam lainnya. Tubuhnya lebih berisi dan wajahnya lebih berumur dibanding petugas yang datang sebelumnya.

                “Selamat malam Ndan,” kata petugas pertama sambil memberikan hormat.

                “Malam. Sudah selesai data-datanya?”

                “Sudah, Ndan.”

Petugas yang lebih muda itu pun menyerahkan kertas di tangannya, lalu keluar meninggalkan ruangan. Dan tugas berikutnya dilanjutkan oleh petugas kedua itu.


                “Selamat malam. Aji?” kata petugas itu.

                “Selamat malam. Eh..., “ jawab Aji sedikit kebingungan mendengar namanya disebut.

Petugas itu melepas topi seragamnya, dan kelihatanlah seluruh wajahnya.

                “Oh, Suprapto ya?” tanya Aji. Keduanya pun saling berjabat tangan dan tertawa hangat. Seperti dua orang sahabat lama yang baru saja bertemu setelah sekian lama tidak berjumpa.

                “Piye kabare, Ji? Masih manggung kethoprak?”

                “Apik. Iya, masih main. Lha keahlianku kan cuma kethoprak,” jawab Aji sambil tertawa. “Eh, anu. Ini Baskoro, ponakanku yang juga main kethoprak.”

                “Ponakanmu?”

                “Oh, memang bukan ponakan asli. Tapi aku memang sudah menganggap anak-anak muda di kelompok kethoprak sebagai ponakanku sendiri. O ya, aku mau tanya soal Baskoro. Kenapa bisa ditangkap?”

Sesaat petugas yang bernama Suprapto itu terdiam.

                “Begini. Kamu kan tahu keadaan saat ini. Hampir di semua wilayah di Jawa saat ini sedang gencar-gencarnya ditingkatkan pengamanan.”

Kembali susana hening. Suprapto mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Tak lama sekepul asap meluncur keluar dari hembusan mulutnya.

                “Negara sedang melindungi rakyatnya dari ancaman kejahatan. Rampok, begal, gali, preman, semua yang dicurigai sebagai pelaku kejahatan akan dibersihkan. Semua demi kemananan masyarakat.”

                “Tapi apa hubungannya dengan penangkapan Baskoro? Dia bukan rampok, begal, gali atau preman kayak yang kamu katakan itu. Dia orang baik”

Suprapto tersenyum singkat. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan Aji.

                “Sekali lagi aku katakan bahwa keamanan masyarakat sedang menjadi perhatian polisi. Kamu pasti sudah mendengar berita soal preman-preman yang tiba-tiba menghilang. Mereka yang kerap mabuk, bertato atau yang sering meresahkan masyarakat, jangan berharap akan dapat tingggal tenang. Status Baskoro masih diperiksa. Dan karena itulah ia ada disini.”

                “Diperiksa? Karena apa?”

Suprapto kembali menghembuskan asap rokok.

                “Baskoro,” kata polisi itu. “Coba buka kaosmu.”

Baskoro menuruti perintah polisi itu. Ia pun melepaskan kaos yang dikenakannya. Tubuhnya yang ramping pun terlihat.

                “Coba kamu hadap ke kanan,” lanjut Suprapto.

Baskoro pun menghadap ke kanan menuruti perintahnya.

                “Apa yang ada di pinggangmu itu?” tanya Suprapto. “Mengapa ada tato di situ?”

Baskoro kebingungan dengan pertanyaan itu. Sementara Aji terlihat terkejut melihat tato kecil yang terdapat di pinggang Baskoro.


                “Baik, aku keluar dulu. Besok pagi pemeriksaan dilanjutkan,” kata sang polisi.

Asmaradana Terlarang (17)

Beberapa potong pakaian sudah dimasukkan Sundari ke dalam tas hingga membuat tas itu hampir penuh. Namun masih saja ada beberapa pakaian lagi yang masih ada di luar dan perlu dimasukkan. Juga beberapa benda lain miliknya yang nampaknya bakal membuat tas itu penuh sesak.

Besok sore Sundari akan ke Pati, menyusul Satriyo yang sudah duluan di sana. Sudah cukup lama Sundari tidak pulang ke kampung halamannya itu. Pulang kampung bukanlah sesuatu yang menggembirakan bagi Sundari, seperti yang dirasakan oleh kebanyakan orang. Ada rasa cemas yang selalu membayanginya setiap kali ia pulang. Rasa cemas yang entah sampai kapan bisa dilepaskannya.

Rasa cemas ketika ia harus bertemu dengan orang-orang di desanya. Atau ketika ia menghadapi pikirannya sendiri yang masih saja belum bisa lepas dari bayang-bayang masa lalunya. Rasa cemas yang kadang berubah menjadi rasa takut yang teramat luar biasa bagi Sundari.

Semua pakaian dan beberapa barang lain masuk juga ke dalam tas. Tapi Sundari teringat masih ada satu barang yang belum dimasukkannya. Ia pun membuka lemari. Diambilnya sebuah buku harian miliknya. Namun ia sejenak ragu, apakah barang itu perlu dibawanya atau tidak.

Dan buku itu diletakkannya saja di atas meja yang ada di dekat lemari. Sundari pun duduk di tepi ranjangnya. Dinyalakannya radio dan sebuah lagu era 90-an mengalun lembut, suara alto yang merdu mengalir dari pita suara Iga Mawarni.

Entah mengapa hatiku
Kini ku ingin sendiri
Tak ingin aku berkawan lagi
Selain denganmu

Sejak pertama bertemu
Hatiku mulai resah
Gelisah menyapa
Rindu yang menggoda
Di hatiku ini

***

Matahari berada di sisi barat langit Desa Kemiri, panasnya sudah mulai berkurang. Angin sore perlahan bertiup. Dua wanita kakak beradik masing-masing menggenggam sapu lidi,  membersihkan halaman depan sebuah rumah. Daun-daun kering yang  berserakan mulai terkumpul di pojok halaman.

                “Akhirnya selesai juga nyapunya,” kata Sutari sambil menyeka keringat yang melumuri dahinya.

               “Sekalian ambil korek di dapur, Dik. Biar sampahnya langsung dibakar sekarang,” timpal Sundari. Tanpa berkomentar, Sutari bergegas menuju ke dapur mengambil korek api. Sementara Sundari berjalan menuju bangku panjang yang ada di depan rumah, lalu duduk melepas lelah di sana menikmati angin sore yang cukup segar dan menghilangkan hawa gerah di tubuh.

Dari dalam rumah, Sutari keluar menuju pojok halaman. Dibakarnya tumpukan daun kering. Asap tipis mulai mengepul. Lalu ia berjalan menuju bangku dan duduk di samping kakaknya sambil tetap mengawasi sampah yang sedang dibakarnya.

***

Ataukah semua ini
Karena aku kasmaran
Bagaimanakah cara aku untuk menghindarinya
Ataukah mungkin aku telah jatuh cinta

Refrein lagu Kasmaran baru saja berakhir. Lagu-lagu nostalgia terus terdengar dari radio, dan sepertinya mampu membawa angan Sundari ke masa-masa lalunya.

Masa lalu. Dua buah kata yang jika bisa Sundari ingin hapuskan dari ingatannya, walau ia tahu pasti itu sukar bahkan mustahil. Jejak yang ditinggalkan oleh masa lalu itu begitu perih dan membekas di hatinya.

Waktu terus beranjak. Malam terus menggelap. Sundari mematikan radionya, dan membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Tubuh yang semakin menua dan lelah oleh beratnya beban hidup. Kehadiran Satriyo mungkin satu-satunya hal yang bisa sedikit mengurangi beban itu. Ah, sudahlah. Sundari  segera memejamkan mata, walau tidak bisa langsung terlelap.

***


“Jam berapa sekarang?” tanya Sundari.

“Lima lebih. Hampir setengah enam,” jawab Sutari.

“Kok Mas Bas belum pulang ya.”

“Wah, saya juga mau nanya itu. Mmm ... tadi Mas Bas apa bilang mau pulang telat atau gimana Mbak?”

“Nggak bilang apa-apa. Lha memang siang tadi Mas Bas mau pergi ke rumah Pak Lik Aji. Tapi katanya cuma sebentar saja, terus langsung pulang.”

“Apa mungkin dari sana Mas Bas latihan dulu sama kelompok kethopraknya?”

“Ndak tau kalo itu. Tapi kayaknya sih ndak ke sana, soalnya minggu-minggu ke depan masih belum ada kegiatan manggung. Mmm ... Kok perasaanku agak ndak enak ya.”

Sementara kakak beradik Sundari dan Sutari masih berbincang, dari jauh nampak ayah mereka datang dengan sepeda. Tak seperti biasanya, kali ini lelaki itu juga agak telat pulang dari berjualan di pasar.

“Tumben telat, Pak’e?”

“Eh, anu. Mmm...  Emak kalian dimana?”

“Ada di dalam.”

Emak muncul dari dalam rumah, bergabung dengan ketiga orang.

                “Ada apa, Pak? Kok kelihatan gugup begitu.”
            
             “Ini. Tadi sepulang dari pasar aku lihat ada ramai-ramai di balai desa.”

“Ramai-ramai apa, Pak’e?

“Aku tanya sama orang-orang di situ. Katanya baru saja Baskoro dibawa ke kantor polisi. Entah ada masalah apa ...”


“Mas Bas ditangkap polisi? Ada apa Pak’e?” tanya Sundari terkejut mendengar kabar tentang suaminya itu.

Minggu, 02 Februari 2014

Asmaradana Terlarang (16)


Sebuah perahu kayu yang berukuran tidak terlalu besar tampak di kejauhan sana bergerak perlahan menuju bibir pantai. Sayup terdengar suara mesin perahu yang berbaur dengan suara ombak. Tampak tiga orang ada di atas perahu tersebut, satu di antaranya adalah wanita. Matahari sudah berada di langit barat, dan sepertinya tak lama lagi akan segera tenggelam.

Dan tak berapa lama kemudian perahu itu pun tiba di tepi pantai.

“Sekarang kita sudah sampai. Ini yang namanya pulau karimun jawa,” kata salah seorang pria yang umurnya sekitar empat puluhan.

“Wah, bagus sekali. Rasanya seperti mimpi saja, “ucap Sundari.

“Nah, kalian silakan turun. Boleh jalan-jalan sebentar di sekitar sini, tapi jangan jauh-jauh. Aku langsung ke rumah yang itu buat beres-beres dulu.”

“Baik, Pak Slamet. Aku dan Sundari mau menikmati suasana sore di pantai ini. Nanti kami segera menyusul, “jawab Baskoro.

Dan pria yang bernama Pak Slamet itu pun bergegas meninggalkan Baskoro dan Sundari, dua sejoli yang baru saja menjadi pengantin beberapa hari yang lalu tersebut.

“Benar-benar indah pulaunya, Mas Bas!”

“Aku juga ndak menyangka ada tempat seindah ini. Seharian di atas perahu, rasa lelahnya kayaknya langsung hilang begitu sampai disini.”

“Iya .... Tapi kok Mas Bas bisa punya rencana datang ke sini?”

“Aku? Hahaha ... Wah, ini bukan rencanaku. Lik Aji yang mempersiapkan semua acara bulan madu kita di pulau ini. Sebenarnya aku sudah menolak, tapi Lik Aji memaksa. Dan kalau dia sudah memaksa kayak gitu, aku ndak berani membantahnya.”

“Ooo ... “

“Yo wis, yuk kita duduk di bawah pohon kelapa itu!”

Keduanya pun berjalan beriringan, bergandengan tangan menuju salah satu pohon kelapa yang ada di pantai itu. Kedua pasang kaki mereka pun melangkah dan meninggalkan jejak di pasir-pasir berwarna putih dan lembut. Baskoro kemudian duduk bersandar pada batang pohon. Sementara istrinya duduk merapat di sampingnya sambil menyandarkan kepalanya di pundak pemuda berambut gondrong itu.

Angin senja bertiup perlahan, menyibak daun-daun kelapa yang kemudian saling bergesek dan berdesik. Camar-camar laut sesekali masih terlihat terbang berputar-putar di atas laut, bersuit bersahutan dan sesekali menukik tajam ke air menangkap ikan buruannya. Sementara gulung demi gulung ombak susul-menyusul berkejaran menghampiri tepian pulau karimun.


“Lihat matahari di sana, Ndari!” tanya Baskoro sambil membelai rambut Sundari.

“Iya, Mas. Ada Apa dengan mataharinya?”

“Apa yang akan kamu katakan tentang matahari itu?”

“Hmmm ... apa ya? Bulat ...”

“Sebulat cintaku padamu!”

Sundari tersenyum mendengar perkataan suaminya yang tiba-tiba itu.

“Iya bulat. Selain bulat juga merah, Mas!”

“Semerah tekadku juga untuk membahagiakanmu!”
Sundari tertawa kecil.

“Benar itu Mas?”

“Lho, kamu ndak percaya...”

“Percaya kok, Mas Bas. Percaya .... Mmm, ... aku suka warna langitnya. Kuning keemasan, bercampur merah, jingga. Cantik, pokonya cantik sekali!”

“Sama seperti kamu. Cantik sekali,” sahut Baskoro sambil mendaratkan sebuah kecupan di kening Sundari.

Sundari yang tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan itu, serta-merta langsung terkejut. Dan wajahnya pun sontak merona merah.

“Ah, Mas Bas. Jadi malu ah ...”

“Malu? Malu sama siapa? Lha wong ndak ada orang dari tadi. Cuma kita berdua saja di sini.”

“Lha nanti kalo dilihat Pak Slamet, apa ndak malu?”

“Memang kenapa kok malu? Pak Slamet pasti bisa memaklumi. Lha wong dia juga tentunya pernah muda, sama seperti kita”

Keduanya terus berbincang sambil menikmati indahnya pantai karimun jawa. Matahari sudah separo lingkaran tenggelam di laut sebelah barat. Perlahan semakin turun, hingga akhirnya menghilang di balik cakrawala. Hanya sisa-sisa cahaya merah jingga yang masih menghiasi langit.

Dan tak jauh dari tempat mereka bercakap-cakap itu, nampaklah sinar lampu minyak yang menerobos keluar dari jendela sebuah rumah. Rumah yang terbuat dari kayu yang tak seberapa besar ukurannya. Beberapa saat kemudian seorang lelaki empat puluhan keluar dari pintu rumah.

“Baskoro, Sundari. Ayo masuk sini! Hari sudah mulai gelap ini ...”

“Iya Pak Slamet,” jawab Baskoro dan Sundari hampir bersamaan.

Lalu keduanya berjalan menuju rumah itu.


Asmaradana Terlarang (15)


“Halo, sugeng ndalu. Selamat malam, Mbak Ndari. Apa kabarnya, Mbak?”

“Kabar baik. Dik Tari juga baik kan?”

“Iya, baik. Pak’e juga baik.”

“Yo syukur kalau begitu. Satriyo bagaimana, ndak ngrepoti kan?”

“Ndak kok, Mbak. Lha aku malah seneng ada Satriyo di sini, bisa buat teman ngobrolnya Bagus. Kalau ndak, wah, tiap hari Bagus pasti keluyuran ndak jelas sama teman-temannya.

“Ya apik kalau gitu...”

“O iya, kapan Mbak Ndari bisa ke sini? Jangan terlalu sibuk kerja, terus lupa sama keluarga disini.”

“Kayaknya minggu depan ke Pati. Kebetulan lagi sepi order, jadi atasanku ngasih cuti.

“O, yo syukur. Nanti aku mau ngabari Pak’e, pasti seneng.”

“Yo wis, Dik Tari. Sudah dulu ya. Sampai ketemu minggu depan. Selamat malam ...”

“Selamat malam.”

Sundari mengakhiri pembicaraan telepon dengan adik perempuannya. Lalu dilanjutkannya kembali membuka album foto yang sudah sekian tahun jarang dilihatnya. Matanya terpaku pada sebuah foto yang gambarnya sudah meluntur. Foto pernikahannya dulu, yang membuat perasaannya campur aduk antara gembira dan juga sedih.  Ah, masa-masa itu ...

***

Suara musik jawa mengalun lembut. Sebuah halaman yang cukup luas, dihiasi pernik-pernik khas dengan beraneka bunga dan janur. Dua tenda besar yang ada sepertinya tak pernah sepi oleh para tamu yang datang di pesta pernikahan itu. Sepasang muda-mudi yang duduk di pelaminan dengan pakaian pengantin adat jawa yang terbuka pada bagian atasnya tak henti-hentinya tersenyum lebar menerima ucapan selamat dari tamu-tamu tersebut.

“Wah, yang pria ngganteng. Yang wanitanya juga ayu,” kata salah seorang tamu.

“Terima kasih, Mbakyu” jawab Sundari dan Baskoro hampir bersamaan.

“Iya, kalian serasi banget. Sudah mirip raja dan ratu saja. Pokoknya klop,” lanjut tamu tersebut.

“Ah, bisa saja Mbakyu ini,” kata Sundari.

“Coba kalau aku belum kawin, pasti aku yang pertama ngantri jadi istrinya Baskoro.”

“Haha... “ Sundari cuma bisa tertawa. Sementara Baskoro  tersenyum malu dibuatnya.

Alunan musik jawa terus terdengar. Para tamu terus datang silih berganti di malam yang penuh dengan sukacita itu. Para laden begitu sibuk membawa baki yang berisi bermacam hidangan atau mengambil piring dan gelas yang kosong dari meja-meja.

Dan sejenak suasana sedikit riuh ketika Pak Kades dan istri datang. Para penyambut tamu pun segera berdiri dan memberi jabatan tangan kepada sepasang tamu kehormatan tersebut.

“Sugeng rawuh, Pak!”

Pak Kades dan istrinya memberikan senyum  kepada orang-orang yang menyambutnya. Lalu keduanya berjalan menuju pelaminan.

“Sugeng rawuh, Pak!” sambut Sugiri dengan senyum lebarnya.

“Wah, selamat ya. Selamat!” kata Pak Kades menjabat tangan Sugiri dan istrinya. Bu Kades pun mengikuti menjabat tangan kedua orang tua Sundari itu.

“Matur nuwun Pak. Monggo dinikmati hidangan ala kadarnya,” Sugiri menjawab dengan sumringah.

“Wis, tenang saja. Boleh bungkus apa tidak ini?” gurau Pak Kades.

“Boleh-boleh. Haha ... Tapi tunggu, biar difoto dulu ya Pak!”

Pak Kades dan istrinya kemudian mengambil posisi. Sejurus kemudian juru potret mengabadikan peristiwa itu. Setelah difoto, Pak Kades dan istri bergerak menyalami Baskoro dan Sundari. Dan terakhir menyalami sepasang pria-wanita paruh baya yang berada di paling ujung.

“Selamat ya! Ini ibu bapaknya Baskoro ya?” tanya Pak Kades.

“Iya, saya ibunya Baskoro.“

“Kalau saya pamannya. Baskoro sudah ditinggal bapaknya sejak kecil.”

“Oh, maaf ... “ Pak Kades berkata lirih.

“Ndak apa-apa, Pak.”

***

Semakin malam, keriuhan mulai berkurang. Kesibukan tak terlalu terlihat seperti beberapa jam sebelumnya.  Di pelaminan, tingggal Sundari dan Baskoro berdua saja. Kedua orang tua Sundari, ibu dan paman Baskoro sedang masuk sebentar ke dalam rumah.

Hampir jam sembilan ketika di depan sana datang empat pemuda datang ke pernikahan itu. Pemuda-pemuda desa seumuran kedua mempelai, yang sudah sangat dikenal oleh Sundari. Setelah bersalaman dengan para penyambut yang sudah tampak kelelahan, para pemuda itu pun mendekat ke pengantin.

Keempatnya mulai mengulurkan tangan untuk memberikan selamat kepada mempelai. Tiga orang pertama tampak dengan cepat menjabat tangan Sundari dan Baskoro. Namun pemuda terakhir agak sedikit kikuk berdiri di hadapan Sundari dan Baskoro.

“Kok datangnya agak malam, Mas Krisno?” tanya Sundari.

“Oh, iya ... tadi ada perlu ....” jawab Krisno kikuk. Sesekali ia memandang wajah Sundari, sesekali menunduk.

“Oooh begitu”

“Iya... Eh, selamat ya ... “ Krisno pun mengulurkan tangannya. Sundari pun menyambut tangan Krisno dan menjabatnya.

“Terima kasih, Mas”

Dan Krisno pun bergerak ke arah Baskoro. Kali ini ia malah tidak berani memandang mata Baskoro. Diulurkannya tangannya dengan kaku.

“Selamat,” kata Krisno dingin.

“Terima kasih,” jawab Baskoro.

Lalu dilepaskannya jabat tangan itu. Krisno masih saja tidak mau memandang Baskoro secara langsung. Sedari tadi ia hanya melihat bagian leher ke bawah saja. Baskoro terheran-heran melihat sikap anak petinggi desa itu.

Krisno hendak bergerak meninggalkan pelaminan, menyusul ketiga temannya yang sudah meinkmati hidangan di meja yang berada tak jauh dari situ. Namun tiba-tiba saja Krisno terkejut ketika melihat suatu tanda yang hampir saja tidak terlihat olehnya. Tanda pada pinggang kanan Baskoro yang nyaris tak nampak karena tertutup pakaian pengantin.

“Tato?”


Asmaradana Terlarang (14)


“Krisno!”

“Nggih, Pak. Ada apa?”

Krisno pun datang menghampiri. Kemudian duduk di samping bapaknya itu.

“Aku menerima ini. Satu lagi buat kamu,” kata petinggi desa itu sambil menunjukkan  dua lembar kertas yang agak tebal.

“Undangan? Dari siapa, Pak? Siapa yang mau menikah?”

“Coba kamu baca sendiri.”

Krisno pun membuka surat undangan itu. Begitu membaca nama yang tertulis di atas kertas berwarna putih itu, mendadak air mukanya menjadi muram.

“Ndari?” kata Krisno pelan, entah ia bertanya kepada Bapaknya atau kepada dirinya sendiri.

“Jadi sekarang Sundari sudah menentukan plihannya. Dia sudah memilih siapakah pria yang akan menjadi suaminya.”

“Eh... iya”

Sejurus kemudian, perbincangan antara kedua laki-laki itu berubah hening.

“Aku mau tanya ke kamu. Kenapa kamu tidak bisa mengambil hati Sundari? Padahal aku berharap dia bisa jadi mantuku.”

“Emm, entahlah Pak. Krisno sendiri sebenarnya sudah berusaha mendekati dia. Tapi Sundari selalu menghindar dan rupanya lebih memilih yang lain, pemain kethoprak keparat itu!”

“Apa kamu bilang??!!” tanya Pak Kades sedikit kaget. “Kata-kata apa yang keluar dari mulutmu itu??!!”

“Oh maaf, Pak. Tapi memang sejak dari awal Baskoro selalu menjadi penghalang untuk aku bisa mendapatkan Sundari. Dan ini yang membuatku jengkel.”  Kemarahan terlihat dari raut wajah Krisno.

“Kamu boleh merasa jengkel. Tapi tak sepantasnya kamu menyalahkan siapa pun! Dan tak sepantasnya juga aku mendengar kata-kata yang tidak terhormat yang baru saja kamu ucapkan!”

“Maaf, Pak ...”

“Sudahlah, kamu jangan bersikap sebodoh itu. Mulai sekarang sebaiknya kamu mencari wanita lainnya untuk jadi istrimu.”

“Baik, Pak ...”

“Aku juga kecewa kamu tidak bisa mendapat Ndari, tapi sudahlah. Masih banyak wanita di desa ini yang cantik dan pintar, meski tak seistimewa Ndari.”

“Hhhh...,” Krisno menghela nafas dalam-dalam. “Baik, Pak”

“Sekali lagi aku ingatkan agar kamu bisa menjaga kehormatan keluarga kita. Bapak tidak ingin kamu bersikap atau bertindak yang bukan-bukan dan sembrono.”


***

“Dik Tari, kalau sayurnya sudah matang jangan lupa kompornya dikecilkan saja.”

“Iya, iya Mbak Ndari. Jangan kuatir! Biar begini, adikmu ini juga lebih pintar masak kalau dibanding Mbak!”

“Ee halah, jangan sok ya. Biar aku jarang masak, tapi jangan anggap aku ndak bisa buat masakan yang enak. Coba lihat, bandeng goreng yang lagi aku buat ini pasti lebih enak dibanding buatanmu.”

“Hihihi... Nah itu Mbak Ndari ngaku sendiri kalau jarang masak. Kalau cuma nggoreng bandeng, semua orang juga bisa. Eh, ati-ati gosong bandengnya!”

“Tenang, ndak bakal gosong.”

“Makanya Mbak, dari dulu kalau diminta tolong bantu-bantu masak, jangan menolak. Alasan lagi sibuk lah, mau berangkat nari lah. Nah, sekarang giliran mau kawin, baru sibuk belajar masak. Hihihi...”

“Kamu kok malah meledek gitu.”

“Bukan bermaksud gitu, Mbak. Sepintar apa pun seorang wanita, mau pintar sekolahnya, mau pintar nari, pintar ini itu, tapi kalau ndak bisa masak ya percuma saja.”

“Halaaaah, sok tau ah kamu. Ndak usah diajari aku juga tahu. Lha kamu, selain masak bisanya apa?”

“Bisa apa ya? Mmmm ... Nyanyi juga bisa”
“Nyanyi? Coba aku mau dengar!”
“Coba ya...”

Sutari mematikan kompor, sayur yang dibuatnya sudah matang. Lalu ia menegakkan badannya dan menyanyi

Gegaraning wong akrami
Dudu bandha dudu rupa
Amung ati pawitane
Luput pisan kena pisan
....

Belum selesai lagu itu dinyanyikan, Sundari sudah menyelanya

“Eh, kamu ndak boleh nyanyi lagu ini.”

“Lho, kok ndak boleh?”

“Cuma Mas Baskoro yang boleh. Cuma dia yang cocok nyanyi lagu ini. Kalau kamu yang nyanyi, ndak pas. Suaramu mblero. Wagu, jelek. Hahaha..”

Perbincangan antara dua kakak beradik itu terpaksa terpotong sebentar, begitu ibu mereka masuk ke ruang dapur itu.

“Ini kok dari tadi ribut-ribut di dapur, ada apa tho?”

“Ndak ada apa-apa, Mak’e. Biasa, cuma bercanda saja,” jawab Sutari.

“Iya, ndak ada-apa Mak’e,” timpal Sundari

“Sudah selesai masaknya?”

“Sudah,” jawab Sundari dan Sutari hampir bersamaan.

“Kalau sudah, cepet dibawa ke meja makan. Bapakmu sudah nunggu dari tadi

Mak’e keluar meninggalkan dapur. Sundari dan Sutari saling berpandangan sebentar, sejurus kemudian keduanya tertawa kecil. Lalu mereka keluar membawa piring berisi ikan bandeng goreng dan mangkuk berisi sayur bayam menuju meja makan. Dan di sana, kedua orang tuanya sudah menunggu mereka.


Asmaradana Terlarang (13)


“Ndari, tunggu!!”

Suara yang tak asing bagi Sundari memanggilnya. Terpaksa Sundari menghentikan laju sepeda yang tengah dikendarainya.


“Oh, Mas Krisno.”

“Mau kemana? Bisa minta waktu sebentar?”

“Ini, mau ke pasar. Ada apa, Mas?”

“Aku mau nanya. Boleh?”

“Iya, mau nanya apa? Kok kelihatan bingung begitu?”

Krisno sedikit gugup, entah mau dari mana ia akan memulai pertanyaannya.


“Bener berita itu?”

“Berita apa maksudnya? Mbok yang jelas dan lengkap kalau nanya.”

“Itu, aku dengar kemarin kamu dilamar sama pemain kethoprak itu. Bener?”

“Oh, soal itu. Kemarin Mas Baskoro memang datang ke rumah.”

“Dan...?

“Ya bertamu dan ngobrol sama Bapak. Kalau soal lamaran, belum.”

“Belum? Jadi nantinya Baskoro bakal melamar kamu? Kapan?

Sundari tersenyum kecut dan merasa tidak nyaman mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Krisno.


“Soal kapannya saya belum tahu pasti. Memang kenapa kok nanya soal ini, Mas Kris?”

“Iya, tapi Baskoro baru beberapa minggu di desa ini. Apa kamu sudah mengenal betul?”

“Mas Baskoro memang belum lama di desa kita. Tapi orangnya baik.”

“Aku belum tahu apa dia baik atau ndak. Tapi kamu kan tahu, dia bukan warga desa ini. Siapa orang tuanya, bagaimana asal-usulnya...”

“Mas Kris,” Sundari memotong. “Maaf, saya ndak tahu apa maksud perkataan Mas!”

“Maksudku, kenapa kamu mau sama Baskoro...”

“Mas! Saya ndak suka mendengar pertanyaan ini” lagi-lagi Sundari memotong perkataan Krisno. “Mas Baskoro itu orang baik. Dan saya suka dia. Ini soal pribadi dan saya ndak mau Mas Kris terlalu jauh mencampuri.”

“Bukannya aku mau ikut campur. Tapi kenapa kamu ndak pilih saja orang yang sama-sama berasal dari desa ini. Tidak adakah di desa ini orang yang baik dan yang sudah jelas siapa dan bagaimana keluarganya?”

“Tunggu dulu. Apa Mas Kris cemburu?”

Krisno gelagapan dan terkejutmendengar pertanyaan Sundari. Seperti gelegar petir yang menyambar di siang hari saja.

“Ehh... Baik, aku mau terus terang saja. Aku naksir kamu. Tapi kamu selalu saja menghindar kalau aku ajak bicara agak lama.”

Sundari diam saja. Sepertinya dia sengaja tidak mau segera menanggapi perkataan Krisno yang baru saja didengarnya itu. Atau mungkin saja perkataan Krisno memang tidak perlu ditanggapi.

“Apa menurutmu aku bukan orang baik?”

“Aku ndak pernah bilang begitu, Mas!”

“Tapi kenapa kamu lebih memilih Baskoro daripada aku? Lagipula kamu juga tahu siapa diriku dan keluargaku.”

“Aku suka dan kagum saat pertama kali bertemu Mas Baskoro. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang aku rasakan. Mungkin ini yang namanya cinta.”

“Cinta? Dan kamu hanya menganggap perasaanmu itu sebagai satu-satunya alasan untuk memilih dia?”

“Mas Kris, jangan pernah menyalahkan perasaan yang datang kepadaku dan aku sendiri juga tidak bisa menolaknya. Apakah salah jika aku menjadikan perasaan ini menjadi alasan untuk memilih Mas Bas?”

“Tapi setidaknya kamu juga pertimbangkan hal-hal lain. Apalagi ini menyangkut masa depan dan kebahagiaanmu.”

“Hal lain seperti apa yang Mas maksud?”

“Tidak cukup hanya cinta untuk menikah, Ndari. Apakah dengan semata-mata cinta akan menjamin kebahagiaan?”

“Aku ndak mengerti maksud Mas Kris.”

Kedua orang itu sejenak terdiam. Krisno menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kembali perkataanya.

“Apa kamu yakin kalau Baskoro bisa membuatmu bahagia? Dia hanyalah pemain kethoprak yang belum tentu tiap hari bisa tampil di atas panggung dan mendapatkan uang untuk menghidupi keluargamu.”

“Mas Kris!!” Sundari berkata dengan nada tinggi. “Aku bukan wanita yang rela menjual perasaannya dan lebih mementingkan uang atau harta! Aku tidak sehina itu, Mas!”

“Oh, bukan begitu maksudku Ndari...”

“Sudah Mas. Aku tidak mau lagi melanjutkan pembicaraan ini. Permisi.”

“Ndari, tunggu dulu ...!”


Sundari tidak menggubris perkataan Krisno yang terakhir dan segera menaiki sepedanya meninggalkan tempat itu. Krisno tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain melihat wanita yang disukainya itu semakin menjauh dari pandangannya.

Asmaradana Terlarang (12)

Langit tertutup awan tebal sejak pagi, hal yang jarang terjadi saat musim kemarau bulan Agustus. Jalanan desa yang memang biasanya tak terlalu ramai oleh lalu lalang sepeda atau pejalan kaki, bertambah semakin sepi saja. Warga lebih memilih berada di dalam rumah.
Sebuah rumah yang berukuran besar jika dibandingkan dengan rumah-rumah warga yang lain, tampak di teras samping dua pria sedang berbicang. Dua pria yang adalah bapak dan anak.

“Krisno. Sudah ketemu dan bicara dengan Sundari?”

“Kalau ketemu sih sudah, Pak. Tapi belum sempat bicara panjang lebar.”

“Lha bagaimana tho, katanya kamu suka. Ya cepat diutarakan.”

 “Maunya saya ya begitu, Pak. Tapi Sundari selalu buru-buru mengindar kalau lagi bicara sama saya. Anu..., Bapak sudah bicara dengan orang tuanya Sundari?”

“Kemarin. Tapi ya ndak terlalu lama. Nanti kalau kamu sudah bicara sama Ndari dan dia mau, baru aku yang bicara ke orang tuanya. Jadi biar yang muda ngomong dulu, baru yang tua melanjutkan. Lha kamu mbok ya juga main ke rumahnya sana.”
            
            “Ya, kapan-kapan saja, Pak.”
           
            “Nanti keburu kecantol orang bagaimana?”
       
            “Ah, mbok jangan ngomong begitu, Pak.”

***

Gerimis mulai turun, lembut dan hampir tak terlihat. Dua orang pria berjalan beriring di sisi kiri jalan desa Kemiri.
   
             “Aku perhatikan beberapa hari ini kamu kok kelihatannya dekat sama seseorang. Eh, siapa itu namanya, Bas?”

             “Sundari, Pak Lik. Apa ndak boleh?” jawab Baskoro kepada pria yang lebih berumur di sebelahnya. Keduanya tidak memiliki hubungan keluarga. Namun karena berada di kelompok Kethoprak sekian lama, Baskoro sudah menganggap pria yang bernama Aji tersebut seperti keluarganya sendiri.
              
             “Siapa yang melarang? Ya aku malah setuju-setuju saja. Apalagi kamu sudah dewasa, dan dia juga. Sudah waktunya.”
           
             “Sudah waktunya apa, Pak Lik?”
        
             “Halah, pura-pura tanya. Pura-pura ndak tahu aja kamu, Bas.”

Keduanya pun tertawa bersama.

***


Gerimis lembut masih saja setia meluncur dari langit Kemiri. Hawa yang sejuk sepertinya membuat para warga memilih berdiam diri di rumah, termasuk penghuni salah satu rumah berdinding bata dengan halaman tak seberapa luas beserta balai-balai bambu di depan rumah yang sudah mulai basah oleh gerimis. Dan di dalam rumah, seorang pria duduk di kursi ruang tamu sambil menghisap rokok kesukaannya .


                “Pak’e, mbok ya sudahan dulu merokoknya. Dari tadi kok ndak berhenti”

                “Hmmm...”

                “Ini diajak bicara kok ndak mau menjawab.”

                “Lha kamu sudah tahu kalo aku lagi asyik merokok, malah diajak ngobrol. Mbok ya tunggu dulu sampai habis, Bu. O ya, Sundari mana? Aku mau bicara. Ndari ... sini, Nduk!”

Merasa dipanggil, Sundari pun keluar dari dalam kamarnya.


                “Nggih, Pak’e. Ada apa?”

                “Duduk dulu sini!”

Sundari segera mengambil tempat duduk di sebelah ibunya.


                “Kamu kemarin malam nonton kethoprak?”

                “Nggih, Pak. Ndari suka ceritanya. Bagus banget”

                “Aku ndak nanya soal ceritanya.”

Pak’e menghirup dalam-dalam batang rokok yang ada di tangannya. Sebentar kemudian, kepulan asap pun meluncur keluar dari mulutnya.

***

                “Tapi jangan lama-lama nunggu, Krisno. Kamu tahu kan kalo Ndari itu ayu, cantik. Ditambah orangnya pinter nari dan sopan kalo bicara dengan orang. Tentunya ndak cuma kamu saja yang naksir dia.”

Krisno terdiam saja mendengar bapaknya bicara. Sejenak suasana hening, hanya rintik gerimis yang masih saja enggan berhenti.

                “Lha kok diam saja tho, Kris.”

                “Eh, iya Pak.”

                “Jangan cuma diam. Meski bapakmu ini punya kedudukan di desa ini, tapi aku ya ndak bisa bantu banyak kalau soal ini. Semua tergantung kamu. Ndak mungkin kalo aku terlalu jauh menggunakan kekuasaan atau kedudukanku untuk mencampuri urusan kamu ini.

***

“Kayaknya kamu ada rasa sama Sundari.”

“Iya, Pak Lik. Ndari orangnya pinter, sopan. Aku suka sama dia.”

“Lha bener tho. Aku wis menduga sejak kalian berdua ngobrol kemarin malam.”
            
            “Masa sih, Pak Lik?”
        
             “Kok kamu ndak percaya. Aku ya pernah muda seperti kamu, Baskoro. Kamu sudah pernah ke rumahnya? ”
     
           “Belum. Itu rumahnya katanya yang dekat pos ronda di perempatan sana.”

           “Oo itu. Jadi Ndari itu anaknya Giri?

           “Iya, Pak Sugiri nama bapaknya. Lha Pak Lik kenal?”

          “Sudah lama aku kenal Giri. Lha wong aku sering ketemu dia dari dulu. Ya sudah, kebetulan kalau begitu. Kita mampir saja ke rumahnya. Sudah lama aku ndak mampir ke rumahnya. Sekalian aku ngomong ke Giri kalau kamu suka anaknya.”

                “Tunggu dulu, Pak Lik. Jangan buru-buru ngomongin itu. Aku ndak mau cepet-cepet nikah.”

                “Lho, siapa yang ngomong soal nikah? Aku cuma mau ngomong kalau kamu suka Sundari. Sudah, ayo kesana!”

Aji pun memegang tangan Baskoro erat-erat. Mau tak mau Baskoro mengikuti saja. Keduanya lalu berjalan menuju sebuah rumah dekat pos ronda.

***

                “Kamu sepertinya lagi dekat sama Baskoro. Apa kamu suka?”

                “Anu, Pak’e. Eh, mmm ... Mas Baskoro itu orangnya baik. Enak diajak ngobrol.”

                “Kamu suka?

Sundari terdiam. Ia pun menunduk. Belum sempat  Sundari menjawab, tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


                “Kulonuwun”

                “Monggo”

Pintu pun dibukakan oleh Pak’e.

                “Monggo-monggo. Eh, Aji. Tumben main kesini, ada angin apa ini. Piye kabare?”

                “Apik. Lha kamu apik juga kan Giri?

Sementara kedua pria itu bicara, di dalam ruang tamu Sundari terkejut. Bukan karena melihat pria yang sedang diajak bicara oleh bapaknya. Tapi karena Sundari melihat pemuda yang berada di belakangnya, yang tampaknya berdiri kikuk dan serba salah.


                “Ayo, silakan masuk!”