Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Oktober 2014

Jalan Tanpa Nama

kawan. kita pernah seiring
melintas pelan di jalan itu


ketika pagi syahdu terkoyak nada merdu
enam utas dawai di tangan lelaki tua
memula intro pada fret A minor


atau ketika hari terik pecah oleh teriak bocah
seorang diri memain-main bola plastik
berlagak entah Rooney entah Messi


juga ketika senja jingga makin merona
saat pria muda menguntai kisah asmara
kepada kekasih di sampingnya


aku, kamu. kita pun mulai terhanyut oleh perasaan masing-masing demi mendengar dawai-dawai yang indah bergetar. lantas berdebat tentang mana yang paling baik, kick and rush atau tiki-taka. hingga akhirnya terharu menyaksi sejoli yang jatuh hati.

tapi kawan. kemarin ku sisir sendiri
jalan yang pernah kita lalui


lelaki tua itu tak lagi memecah pagi
tiada gitar yang dulu dimainkannya
intro minor itu tak pernah menjadi bait, interlude, atau coda
lalu bocah kecil nampak murung sewaktu siang
terpekur. duduk memeluk kedua lututnya
tanpa bola plastik yang menjadikannya bak pemain dunia
juga pria muda kini tanpa kekasih senjanya berkata
‘jika semua kisah punya awal tengah dan akhir
maka aku terhenti di bab pertama’


dengarlah kawan. sungguh pilu ku pandangi jalan itu
lelaki tua tanpa gitar
bocah kecil tanpa bola plastik
pria muda tanpa kekasih


seperti aku
kini tanpamu

Rabu, 16 April 2014

Abimanyu

masih lekat di langit-langit ingatan
saat padang menghijau dan angin mendesir di ujung kemarau
dua jiwa kita saling terpaut serupa sepasang angsa di telaga saling berpagut
lalu pada dua pendar matamu aku jatuh tertawan

surya dan cakrawala adalah saksi abadi
sebuah ikrar suci terucap dua hati:
aku satu-satunya kamu
kamu satu-satunya aku

wai putra arjuna kekasih dewata
dengan berbusung dada kau datangi kurusetra
wai ksatria pandawa gagah perkasa
dengan nyawa kau gentarkan bharatayudha

ah, begitu lekas kau bergegas
sementara rasa itu masih membekas
dan sendiri ku redam perih tiada terperi
“selamat jalan abimanyu”

cinta sejatimu,
utari

Selasa, 28 Januari 2014

Nol

Lihat, sudah berapa jauh
kaki telah melangkah. Perhatikan
jejak yang tercipta dan juga
tujuan yang masih harus dicapai.

Lihat, di manakah kaki berdiri. Perhatikan
apakah diri ini telah berada di tempat
yang semestinya harus berada.

Tersenyumlah bila sejauh ini
telah terjalani semua yang baik,
teraih semua yang teringini,
terwujud semua yang diimpikan.

Tapi bila ternyata
langkah telah salah arah
dan kujur raga
begitu lelah sia-sia.
Dan sebelum nanti
semakin tersesat,
berhentilah sesaat.
Perbaiki diri dan
ajaklah nurani untuk
kembali ke titik nol

Selasa, 10 Desember 2013

Kopi dan Gerimis Pagi

secepat ini
kopi menjadi dingin
sementara hujan semalam
masih menyisakan gerimis pagi
yang memudarkan jendela

tapi ada mimpiku di luar sana
bukan sekedar mimpi saat tidur lelap
tapi justru mimpi yang tak pernah
membiarkanku terlelap

mungkin gerimis kali ini
adalah sapaan lembut untuk mengejar mimpi
maka biarlah ia mengalir
menyapa bumi

selamat pagi

Senin, 09 Desember 2013

Kopi Terakhir

tak ada yang istimewa pada sesap pertama
bibirku di cangkir kopi ini
setengah jam lalu

juga basa-basi kita di kafe ini
tentang acara televisi dan gerimis yang tak reda
atau rasa dingin yang merayapi tiap jengkal waktu

kata demi kata yang kita ucap
tak ubahnya kepulan uap robusta
segera lenyap. tak ada yang kuingat

secangkir kopi. sepenggal hujan. juga obrolan
hanyalah pembunuh waktu
bagi dua jiwa asing yang baru bertemu

hingga kau pergi dan kuikuti langkahmu dengan mataku
baru kurasa nikmat reguk terakhir kopi ini
yang sedari tadi aku ingini

Minggu, 08 Desember 2013

Urban's Song

Pada dawai-dawai yang mendenting
dari bilik sembilan meter persegi di sebuah malam
sebuah intro lembut, antara largo dan adagio
dan humming lirih sang penyanyi
yang berlegato tentang impian
yang dibawanya dulu sebelum ke kota
tentang sebuah masa depan
tentang cinta dan harapan

Sebuah verse pun dibuka
dalam E mayor datar bersahaja
dikisahkannya segala daya
untuk menjadikan hidup bermakna
sebagai pekerja kontrak berupah tak seberapa

Ketika chorus dinyanyikannya
berubah crescendo yang menghentak
dijeritkannya pilu yang lama terpendam
dikeluhkannya hidup yang pas-pasan
dipertanyakannya impian yang tak juga datang

Ketika interlude dimainkannya
dalam dawai tercabik penuh distorsi
dalam stakato sarat emosi
diluapkannya marah tak tertahan

Ketika overtone diteriakkannya
dalam falseto yang mengiris hati
Dimakinya nasib juga takdir
Diserapahinya hidup yang tak adil

Dawai-dawai berhenti mendenting
sang penyanyi mendadak hening
tanpa coda, tanpa ending
tak sempat diselesaikan lagunya
dibiarkannya semua penuh tanya
dalam sebuah putus asa

Jumat, 06 Desember 2013

Oh Madiba. Oh Mandela


masih kami ingat kemarin
seulas damai merekah di senyummu
di antara gempita vuvuzela
di tengah rancak Waka Waka


lalu ingatan kami melambung-lambung
di silam masa. berpuluh-puluh tahun
masih dengan senyum yang sama
ketika engkau menggores cerita


sang singa perkasa
berlari sigap di gurun raya
mengaum lantang di tanah afrika
menggugat. melawan. menentang


jiwa-jiwa lalim istana apartheid
yang membeda-beda manusia
terkotak-kotak oleh belenggu ras
dalam hitam atau putih yang fana


“Oh Madiba, Oh Mandela”


dalam hening kami gemetar
sebuah duka telah terdengar
dan engkau kini pergi
menuju rumah yang abadi


dalam lonceng gereja yang berdentang
ketika azan syahdu berkumandang
terucap tulus doa-doa kami
menghantar sang pahlawan sejati


“Oh Madiba, Oh Mandela”


selamat jalan sahabat
selamat jalan pahlawan