Rabu, 16 April 2014

Abimanyu

masih lekat di langit-langit ingatan
saat padang menghijau dan angin mendesir di ujung kemarau
dua jiwa kita saling terpaut serupa sepasang angsa di telaga saling berpagut
lalu pada dua pendar matamu aku jatuh tertawan

surya dan cakrawala adalah saksi abadi
sebuah ikrar suci terucap dua hati:
aku satu-satunya kamu
kamu satu-satunya aku

wai putra arjuna kekasih dewata
dengan berbusung dada kau datangi kurusetra
wai ksatria pandawa gagah perkasa
dengan nyawa kau gentarkan bharatayudha

ah, begitu lekas kau bergegas
sementara rasa itu masih membekas
dan sendiri ku redam perih tiada terperi
“selamat jalan abimanyu”

cinta sejatimu,
utari

Jumat, 07 Maret 2014

Take 31



My name is Sam Leinad, biasa dipanggil Sam. I’m Indonesian dan tak banyak yang mengenal siapa aku. Orang mungkin lebih mengenal Joe Taslim, as one of Indonesian actor yang sukses main di film Hollywood. Ya, The Raid film yang kumaksud. Padahal jauh belasan tahun sebelumnya, mungkin namaku bisa lebih dulu berkibar di dunia perfilman.

***

I was on vacation. Aku sedang asyik melihat-lihat studio film di Hollywood, but suddenly, seorang pria mendekatiku.

“Hello. Kami sedang membuat film namun salah satu aktor kami belum datang. Would you please help us?”

“Mmm ... do you mean, i replace the aktor?”

“Of course!”

Kami masuk ke ruangan yang lumayan besar. I saw there’re film crews yang sibuk dengan pekerjaannya. Then seorang pria mendekatiku and shake my hand.

“I’m Cameron. Read this script. Your name’s Jack in this film”

Aku terima sebuah kertas dialog dan membacanya.

Sssshh. Give me your hands.
Now close your eyes.
Go on.
Step up.
Now hold on to the railing.
Keep your eyes closed. Don't peek.
Step up onto the rail.
Hold on... Hold on.
Keep your eyes closed.
Do you trust me?
All right...
Open your eyes.



***

Take 1.

The camera shot on me. Aku berdiri di ujung anjungan kapal.

“Hello, Jack.” Suara wanita memanggilku.

Aku membalikkan badan. I saw the actress, Nona Winslet, di hadapanku. Hmm, cantik sekali. Dadaku berdegup kencang melihat this pretty one.

“I changed my mind. They said you might be up..., “ lanjut Nona Winslet.

“Sssshh. Give me your hands.” Aku buru-buru mendekatinya dan menaruh telunjukku pada mulutnya. Nona Winslet kaget.

“Cut cut!!,” teriak sutradara.

“You are crazy !!” umpat Nona Winslet sambil melotot kepadaku. Aku tak sanggup memandang mata indahnya. My heart beated so hard karena kecantikannya. “Put your finger on your lips! Not on me!”

Take pertama gagal. I lost my concentration. Take 2, Take 3, ... tetap saja gagal. Sudah hampir dua jam berlalu, and no good result.

“What’s going on?” teriak sutradara kepadaku

“I’m sorry” kataku


***


Take 12

Aku mencoba berhati-hati. Diulang kembali adegan tadi, dan sepertinya aku bisa melakukan adegan yang gagal tadi.

“Now close your eyes.” Aku menggandeng tangan Nona Winslet menuju pagar anjungan kapal. “Go on!”


Aku dan Nona Winslet sudah berada di pagar. Aku masih berdebar-debar.


“Step up!” kataku.


Nona Winslet lalu mulai memanjat. Namun baru saja ia naik di besi pagar yang paling bawah, tiba-tiba saja ia kehilangan keseimbangan dan ...


“Bum!!!”

Nona Winslet jatuh dan meringis kesakitan.


“Cut !!!” aku mendengar lagi teriakan itu.


“Oh my God,” kata Nona Winslet sambil menahan rasa sakit. “Sepertinya aku menginjak rokku sendiri.”


Aku hanya bisa memandangi makhluk manis di depanku, tanpa bisa berkata apa-apa. Pengambilan gambar ditunda beberapa menit. Aku duduk di sebuah kursi, and the pretty one duduk di kursi sebelahku. Aku salah tingkah dan tak berani berbicara sepatah kata pun. Jantungku seperti mau lepas.


***


Take 31


Aku mulai bosan harus mengulang dan mengulang adegan. But i must finish it. Pengambilan gambar kali ini sepertinya mulai lancar. Sampai dengan adegan dimana aku membimbingnya ke pagar, semua berjalan mulus.


“Keep your eyes closed. Don't peek.” I said



“I’m not,” the pretty one answered.


“Step up onto the rail. Hold on... Hold on... Keep your eyes closed. “ kataku.


Sejauh ini kami berhasil melakukannya.


“Do you trust me?” i asked her.

“I trust you.”


I pressed her gently to the rail, standing right behind her. Kemudian aku memegang kedua tangannya dan membukanya lebar-lebar, seperti sepasang sayap merpati.


“All right... Open your eyes.” I said to her.


“I’m flying. Jack!!!” teriak the pretty one.

Lalu aku memindahkan peganganku dari kedua tangannya. I moved my hands to her waist. And then ..

Entah kenapa tiba-tiba Nona Winslet menghentak-hentakkan badannya. Bahkan kemudian tertawa terbahak-bahak. “Ahaha... You tickled me. Hahaha ...”

“Cut cut!!!”

Lagi-lagi, gagallah pengambilan gambar.

Dan bersamaan dengan itu, datanglah seorang pria berlari tergopoh-gopoh memasuki ruangan syuting. Pria yang sepertinya pernah aku lihat ...

“Sorry, I’m late.” Kata pria itu

“For three hours and more we waited for you, Leonardo!” teriak Cameron. “Okey, pengambilan gambar cukup sampai Take 31 saja. We will start the Take 32 with the real actor.”

Lalu Cameron mendekatiku.

“Thank you,” katanya sambil menjabat tanganku.

Aku tersenyum kecut. Lalu aku pun berjalan meninggalkan ruangan itu.


***


Aku sudah melupakan kejadian di Hollywood di tahun 90-an itu. Tapi aku tak pernah benar-benar bisa melupakan wajah the pretty one itu.

My name is Sam Leinad, biasa dipanggil Sam. I’m Indonesian dan tak banyak yang mengenal siapa aku. Orang mungkin lebih mengenal Joe Taslim, as one of Indonesian actor yang sukses main di film Hollywood. Ya, The Raid film yang kumaksud. Padahal jauh belasan tahun sebelumnya, mungkin namaku bisa lebih dulu berkibar.

Kamis, 27 Februari 2014

Valentine Sudah Lewat

Februari. Wah, ini bulan yang istimewa. Sebenarnya sih bagi kami Februari sama saja dengan sebelas bulan lainnya. Manusia saja yang menjadikan kami, buah-buah apel, lebih istimewa di bulan pendek ini. Tapi sayangnya keistimewaan itu hanya terjadi di pertengahan bulan. Valentine’s Day, itu menurut para manusia. Kalau sudah lewat ke akhir bulan seperti sekarang, ya tidak istimewa lagi.

Saat ini umurku sudah cukup matang. Penampilanku ranum dan merah menyala, rasa buahku pun sudah manis segar. Namun sayang, harapanku agar aku bisa terpilih oleh manusia untuk dijadikan sesuatu yang istimewa di Valentine’s Day yang lalu tidak terjadi. Aku masih terpajang manis di toko buah saat ini, menunggu pembeli. Tapi sudahlah, toh ada apel-apel lainnya yang juga mengalami ketidakberuntungan ini.

Setidaknya kami masih bisa saling bercanda satu dengan lainnya, atau berbagi cerita turun-temurun sejak masa nenek moyang kami dulu. Kalau sudah lelah mengobrol, ya paling-paling kami cukup berdiam diri sambil melihat apa yang terjadi di sekitar kami: pemilik toko buah yang sudah nenek-nenek dan berkacamata tebal itu, orang-orang yang lalu-lalang di depan toko, atau pria berambut ikal di seberang jalan yang sering ketiduran di toko kelontong yang dijaganya.

***

Lincolnshire, 1666. Untuk kesekian kalinya pria berambut ikal itu ketiduran di halaman belakang rumah keluarga besarnya. Kadang tertidur di kursi malas yang ada di beranda belakang, juga kadang tertidur sambil duduk di lantai dengan bersandar tembok.

“Eh, lihat manusia yang tidur di sana itu,” kata salah satu buah apel yang bertengger di dahan pohon.

“Iya, memang kenapa?” timpal apel lainnya yang ada di dekatnya.

“Aku kok sebel melihatnya.”

“Lho?”

“Iya sebel saja. Anak muda kok sering ketiduran. Rasanya mau ku jitak saja.”

“Tenang, tenang. Kita beri pelajaran saja kalo begitu. Aku punya ide… “

Uups… Pria muda itu terbangun. Menguap. Menggeliat meregangkan kedua tangan. Lalu mulai berdiri dan berjalan berkeliling halaman rumah sambil membawa selembar kertas dan sebatang pena. Matanya masih terlihat merah.

Siang itu lumayan terik, beruntung angin sepoi cukup memberi kesegaran. Tak hanya itu, tentunya juga mendatangkan kantuk bagi pria berambut ikal itu. Dan… benar saja, begitu ia menemukan tempat yang cocok, ia pun mulai duduk dan tak bisa menahan kantuknya.

“Aha, dia ada di bawah pohon apel! Berarti kita bisa melancarkan aksi.”

Apel itu mulai menggoyang-goyangkan badannya, hingga akhirnya ia terlepas dari dahan dan melayang bebas ke bawah.

PLAKK!!

Apel itu jatuh mengenai kepala manusia yang tertidur di bawahnya. Jelas saja pria itu terbangun kaget. Di pegangnya apel yang jatuh itu sambil mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit.

Sekian detik pria itu terdiam, entah apa yang dipikirnya. Tapi di detik berikutnya ia mengambil kertas dan menerakan tulisan di atasnya:

Energi potensial berbanding lurus dengan massa benda, ketinggian benda dan juga gaya gravitasi.
Tak lupa ia menggoreskan sebuah nama di bawah tulisan tadi: Isaac Newton

***

“Valentine sudah lewat,” aku bergumam pelan.

“Apa kau bilang barusan?” tanya temanku.

“Oh, iya. Valentine sudah lewat,” jawabku. “Kita sudah tidak istimewa lagi. Apel biasa-biasa saja… “

Pembicaraan kami terpotong ketika seorang pria bertubuh kurus masuk ke toko buah. Mudah-mudahan saja dia mengambil diriku sehingga aku bisa menikmati suasana yang baru.

Setelah berbincang singkat dengan nenek tua pemilik toko, pria kurus itu mulai memilih-milih apel. Dan, akhirnya aku dan tiga apel lainnya berpindah dari kotak buah menuju kantong plastik.

Selesai membayarnya, pria kurus itu menenteng kantong plastik dan berjalan menyusuri jalan. Dari dalam kantong yang transparan, aku bisa melihat orang-orang dan kendaraan yang lalu-lalang.

Di ujung sana, aku lihat seorang pria berlari tunggang-langgang. Sekian belas meter di belakangnya, beberapa orang berusaha mengejarnya. Maling?

***

Los Altos, 1976. Suasana kota kecil yang biasanya tenang, mendadak heboh siang itu.

“Maliiing!!! Maliiiinggg!!!”

Terdengar teriakan seorang wanita muda di sebuah kios buah segar miliknya. Sayang si pencuri cilik terlanjur kabur jauh. Orang-orang berdatangan, mengerumuni wanita itu. Beberapa juru warta juga ada.

“Mana malingnya?”

“Barang apa yang hilang?”

“Dasar maling kurang ajar!”

Wanita muda itu tak menghiraukan perkataan orang-orang di sekitarnya. Ia sibuk memeriksa barang dagangannya. Lengkap, sepertinya maling cilik itu tak berhasil menggondol satu barang pun. Kecuali …

“Beruntung tak ada yang hilang. Maling lapar itu bahkan tak berhasil menyelesaikan makan siangnya,” kata wanita itu sambil memegang sebuah apel yang tergigit secuil.

Kilatan kamera juru warta pun menyambar, mengabadikan si wanita dan apel di tangannya. Foto itu muncul di surat kabar lokal esok harinya, foto yang akhirnya menginspirasi seorang anak muda untuk memakai apel somplak menjadi logo perusahaan komputernya.

***

Sudah tiga hari aku berada di kamar si pria kurus itu. Kami yang semula berempat, kini tersisa dua di atas meja kecil di samping ranjang si kurus itu. Yang dua lagi ‘pergi’ dari meja ini, namun bukan karena dimakan.

Tiga hari ini si kurus nampak tak sehat, dan mengurung diri di kamar. Sudah dua kali orang tuanya mengundang dokter untuk memeriksa penyakitnya. Namun baru saja si dokter berada di ambang pintu kamar, si kurus sudah berteriak ketakutan dan melempar dengan apel. Begitulah nasib kedua temanku, hanya sebagai apel buangan untuk mengusir dokter kemarin dan kemarinnya lagi.

“Valentine sudah lewat… “

Aku menggumamkan kalimat itu lagi. Kali ini mungkin lebih terdengar sebagai sebuah keluhan karena aku sudah kehilangan kesempatan untuk menjadi apel yang istimewa untuk manusia. Bahkan aku terancam menjadi apel buangan, seperti temanku kemarin.

TOK TOK TOK

Tiga ketukan di pintu.

“Siapa?” tanya si kurus.

“Nak, sudah tiga hari kamu sakit,” suara seorang wanita di ambang pintu. “Kamu harus diperiksa dokter.”

“Tidak, aku tidak mau dokter!!”

Seorang pria berbaju putih muncul di samping wanita itu.

“Nggak usah takut. Cuma sebentar saja,” kata si baju putih sambil tersenyum ramah.

Dan seperti yang sudah-sudah, si kurus berteriak ketakutan. Di ambilnya temanku, lalu dilemparkannya ke arah si baju putih. Hampir saja apel itu mengenai muka si baju putih, jika ia tak mengelak. Wajah ramahnya berubah merah. Tanpa berkata sepatah pun, si baju putih langsung meninggalkan kamar itu diikuti si wanita yang berkali-kali meminta maaf.

Si kurus membuka laci meja. Sebuah buku kecil dan pulpen diambilnya. Sambil tersenyum puas, sebuah tulisan diterakannya di buku itu:
An apple a day keeps the doctor away
Kini tinggallah aku sendiri. Apel terakhir di kamar ini.
Entah apa yang akan terjadi denganku selanjutnya.

Minggu, 09 Februari 2014

Asmaradana Terlarang (19)

Matahari sudah mulai meninggi dan menghangatkan kota Pati. Sebuah kantor polisi yang berada beberapa puluh meter di timur alun-alun terlihat ramai seperti hari-hari sebelumnya. Beberapa petugas sedang berjaga di pos bagian depan.

Di ruangan lain, dua orang pria duduk di lantai yang disemen. Sebuah terali besi memisahkan kedua pria itu.

                “Sejak kapan kamu pakai tato?” tanya Aji. Lelaki paruh baya itu tak dapat menyembunyikan kemarahannya kepada Baskoro.

                “Eh.. anu,” Baskoro gelagapan mendapat pertanyaan itu. “Sudah tahun lalu, Pak Lik.”

                “Siapa yang membuatnya?”

                “Teman-teman kethoprak.”

                “Jadi teman-teman kamu juga  tatoan seperti kamu?”

                “Tidak, Pak Lik. Cuma saya yang pakai tato. Ini juga untuk iseng saja.”
               
***

Di ruang lain, Suprapto tengah duduk dan membaca beberapa berkas yang ada di meja. Sebuah gelas berisi kopi yang berada di depannya tinggal berisi setengahnya.

                “Selamat pagi, Ndan,” sapa seorang petugas di depan pintu. “Ada yang mau ketemu.”

                “Pagi. O, ya. Lima menit lagi suruh masuk,” jawab Suprapto. Ia kemudian mengambil gelas kopi dan mereguk isinya, lalu melanjutkan membaca berkas.

Sebuah ketukan di pintu terdengar. Seorang lelaki masuk setelah sebelumnya mengucapkan salam singkat.


                “Selamat pagi,” kata Suprapto. “Silakan duduk Nak Krisno.”

                “Matur nuwun, Pak,” jawab lelaki yang bernama Krisno itu.

***

                “Aku tidak habis pikir, kanapa kamu bisa melakukan tindakan bodoh seperti itu,” Aji masih belum bisa meredam kemarahannya. Sementara Baskoro terdiam tidak tahu harus menjawab apa. “Apa kamu tidak tahu kalo tato itu bisa mendatangkan bencana bagi kamu? Banyak preman dan gali yang sekarang ketakutan dan berusaha menyembunyikan dan menghapus tato di tubuhnya. Eh, kamu kok malah tatoan. Mau bunuh diri?”

                “Maaf, Pak Lik.”

   “Apa kamu tidak dengar kalo tahun ini banyak gali yang tiba-tiba menghilang secara misterius. Gali-gali banyak ditangkap orang tak terkenal. Lalu tahu-tahu sudah ditemukan di tepi jalan, hutan atau di mana saja dalam keadaan meninggal dengan luka tembak atau terkena senjata tajam di seluruh tubuhnya?”

Baskoro gemetaran mendengar perkataan Aji. Sungguh ia tidak bakal mengira bahwa gambar yang terukir di pinggangnya itu akan menyeretnya masuk ke dalam bui. Bahkan ia tak pernah berpikir bahwa kini nyawanya juga berada di ujung tanduk.

Baskoro sangat ketakutan dan khawatir. Khawatir bukan hanya terhadap dirinya, tetapi juga terhadap nasib istrinya. Apalagi saat ini Sundari dalam keadaan mengandung dua bulan.

***

“Aku tidak menemukan catatan kejahatan yang pernah dilakukan oleh Baskoro. Dia bersih,” kata Suprapto.

“Bagaimana dengan tato itu?” tanya Krisno. “Bukankah itu perlu dicurigai?”

“Aku sedang memeriksanya. Nanti akan tahu apakah Baskoro bersih atau tidak.”

“Saya mohon Bapak tidak berlambat-lambat. Saya khawatir nanti akan terjadi hal-hal yang tidak baik di masyarakat.”

“Aku sudah meminta kesaksian dari warga soal Baskoro. Semuanya bilang tidak ada masalah. Baskoro pemuda yang baik dan sopan. Dan aku tidak akan gegabah dalam menangani hal ini.”

“Tapi Pak, bukankah sudah seharusnya gali-gali bertato dilenyapkan saja dari masyarakat? Ini demi keamanan, Pak.”

“Kalo memang benar gali, tentu Baskoro akan ditindak. Aku kebetulan sangat mengenal baik pemimpin  kethoprak tempat Baskoro main. Dan aku percaya Pak Aji bisa menjaga Baskoro dan anak buahnya yang lain tetap berlaku baik di masyarakat.”

“Jadi, gimana kelanjutan laporan saya Pak? Apa Baskoro akan bebas begitu saja?”

“Tenang saja, Dik Krisno. Pemeriksaan masih terus dilanjutkan.”

Suprapto mengakhiri pembicaraan itu dan meminta Krisno untuk meninggalkan ruangan. Polisi itu melihat ada sesuatu di mata Krisno. Semacam kebencian, atau dendam pribadi di sorot mata pemuda Desa Kemiri itu. Tak sukar bagi seorang reserse seperti Suprapto untuk bisa menangkap hal-hal seperti itu.

***


                “Jadi, gimana Lik. Apa Pak Lik bisa membantuku?” tanya Baskoro.

                “Hhhh... baik, aku akan mencoba bicara dengan Suprapto. Mudah-mudahan dia bisa membebaskan kamu, jawab Aji.

                “Matur nuwin, Lik.”

                “Baik, aku akan menghadap Suprapto. Mudah-mudahan ia ada di ruangannya.”

Aji pun meninggalkan Baskoro. Dari ruangan itu, pandangan Baskoro terus mengikuti Aji hingga akhirnya menghilang di belokan ruangan.
Tapi, hei, Baskoro melihat seseorang yang sedang berjalan di kejauhan sana. Meski hanya sebentar melihatnya, Baskoro sangat mengenal sosok itu.

                “Krisno? Mengapa dia ada di sini?”

                

Senin, 03 Februari 2014

Asmaradana Terlarang (18)

Hawa gerah menyelimuti ruangan kecil itu. Beberapa kali Baskoro menyeka keringat yang mengalir di wajahnya. Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba saja ia harus mengalami kejadian yang tak dimengertinya sore tadi.

Tiba-tiba di tengah perjalanan pulang, ia dihentikan oleh seorang polisi. Setelah melalui tanya jawab singkat yang tak juga memberikan kejelasan mengenai kesalahan apa yang telah dilakukan Baskoro, ia akhirnya dibawa ke kantor polisi.

Hari mulai malam di bulan Agustus yang gerah itu. Sugiri dan Aji datang ke kantor polisi untuk menjenguk Baskoro. 


                “Jadi sampai sekarang kamu belum tahu salahmu apa?” tanya Sugiri.

                “Iya Pak’e. Polisi yang menangkapku tadi cuma ngomong kalo ada laporan yang mencurigai saya terlibat kelompok kejaharan. Kejahatannya apa, tadi tidak dijelaskannya. Saya diminta ikut dulu ke kantor untuk diperiksa,” jawab Baskoro.

                “Lha kok aneh sekali.”

                “Iya aneh. Sampai sekarang masih belum juga ada petugas yang datang untuk menjelaskan hal itu.”

Aji yang dari tadi diam, akhirnya ikut bergabung berbicara dengan anak dan mertua itu.


                “Ini sudah malam. Sebaiknya kamu pulang dulu, Giri. Biar istri dan kedua anakmu di rumah tidak khawatir. Jelaskan saja Baskoro baik-baik saja. Aku disini yang nanti ngurusi masalah Baskoro,“ kata Aji.

                “Nanti saja, Ji. Biar aku tahu permasalahannya dulu, baru aku akan pulang,” jawab Sugiri.

                “Tapi ini sudah malam, dan sampai sekarang juga belum ada kejelasannya. Kasihan keluargamu di rumah, sebaiknya kamu pulang dulu dan bisa kembali besok pagi.”

“Ya sudah kalo begitu. Semoga kedaannya baik-baik saja. Aku pamit dulu.”

Sugiri pun meninggalkan ruangan itu dan tinggallah Aji dan Baskoro. Tak lama, datanglah seorang petugas bertubuh ramping dan berpakaian seragam.

                “Selamat malam,” sapa pria berseragam itu.

                “Selamat malam,” jawab Aji dan Baskoro hampir bersamaan.

                “ Baskoro..., “ lanjut petugas.

                “Saya, Pak,” jawab Baskoro. “Mohon penjelasannya mengenai permasalahan ini, Pak. Saya melakukan kesalahan apa?”

                “ Sabar dulu. Saya akan menanyai dan menulis data-data pribadi. Nanti ada petugas yang akan menjelaskan apa yang Baskoro tanyakan tadi.”

Pria berseragam itu pun mengajukan sejumlah pertanyaan dan menulis jawaban yang dikatakan Baskoro pada selembar kertas.

Beberapa menit kemudian datang pria berseragam lainnya. Tubuhnya lebih berisi dan wajahnya lebih berumur dibanding petugas yang datang sebelumnya.

                “Selamat malam Ndan,” kata petugas pertama sambil memberikan hormat.

                “Malam. Sudah selesai data-datanya?”

                “Sudah, Ndan.”

Petugas yang lebih muda itu pun menyerahkan kertas di tangannya, lalu keluar meninggalkan ruangan. Dan tugas berikutnya dilanjutkan oleh petugas kedua itu.


                “Selamat malam. Aji?” kata petugas itu.

                “Selamat malam. Eh..., “ jawab Aji sedikit kebingungan mendengar namanya disebut.

Petugas itu melepas topi seragamnya, dan kelihatanlah seluruh wajahnya.

                “Oh, Suprapto ya?” tanya Aji. Keduanya pun saling berjabat tangan dan tertawa hangat. Seperti dua orang sahabat lama yang baru saja bertemu setelah sekian lama tidak berjumpa.

                “Piye kabare, Ji? Masih manggung kethoprak?”

                “Apik. Iya, masih main. Lha keahlianku kan cuma kethoprak,” jawab Aji sambil tertawa. “Eh, anu. Ini Baskoro, ponakanku yang juga main kethoprak.”

                “Ponakanmu?”

                “Oh, memang bukan ponakan asli. Tapi aku memang sudah menganggap anak-anak muda di kelompok kethoprak sebagai ponakanku sendiri. O ya, aku mau tanya soal Baskoro. Kenapa bisa ditangkap?”

Sesaat petugas yang bernama Suprapto itu terdiam.

                “Begini. Kamu kan tahu keadaan saat ini. Hampir di semua wilayah di Jawa saat ini sedang gencar-gencarnya ditingkatkan pengamanan.”

Kembali susana hening. Suprapto mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Tak lama sekepul asap meluncur keluar dari hembusan mulutnya.

                “Negara sedang melindungi rakyatnya dari ancaman kejahatan. Rampok, begal, gali, preman, semua yang dicurigai sebagai pelaku kejahatan akan dibersihkan. Semua demi kemananan masyarakat.”

                “Tapi apa hubungannya dengan penangkapan Baskoro? Dia bukan rampok, begal, gali atau preman kayak yang kamu katakan itu. Dia orang baik”

Suprapto tersenyum singkat. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan Aji.

                “Sekali lagi aku katakan bahwa keamanan masyarakat sedang menjadi perhatian polisi. Kamu pasti sudah mendengar berita soal preman-preman yang tiba-tiba menghilang. Mereka yang kerap mabuk, bertato atau yang sering meresahkan masyarakat, jangan berharap akan dapat tingggal tenang. Status Baskoro masih diperiksa. Dan karena itulah ia ada disini.”

                “Diperiksa? Karena apa?”

Suprapto kembali menghembuskan asap rokok.

                “Baskoro,” kata polisi itu. “Coba buka kaosmu.”

Baskoro menuruti perintah polisi itu. Ia pun melepaskan kaos yang dikenakannya. Tubuhnya yang ramping pun terlihat.

                “Coba kamu hadap ke kanan,” lanjut Suprapto.

Baskoro pun menghadap ke kanan menuruti perintahnya.

                “Apa yang ada di pinggangmu itu?” tanya Suprapto. “Mengapa ada tato di situ?”

Baskoro kebingungan dengan pertanyaan itu. Sementara Aji terlihat terkejut melihat tato kecil yang terdapat di pinggang Baskoro.


                “Baik, aku keluar dulu. Besok pagi pemeriksaan dilanjutkan,” kata sang polisi.

Asmaradana Terlarang (17)

Beberapa potong pakaian sudah dimasukkan Sundari ke dalam tas hingga membuat tas itu hampir penuh. Namun masih saja ada beberapa pakaian lagi yang masih ada di luar dan perlu dimasukkan. Juga beberapa benda lain miliknya yang nampaknya bakal membuat tas itu penuh sesak.

Besok sore Sundari akan ke Pati, menyusul Satriyo yang sudah duluan di sana. Sudah cukup lama Sundari tidak pulang ke kampung halamannya itu. Pulang kampung bukanlah sesuatu yang menggembirakan bagi Sundari, seperti yang dirasakan oleh kebanyakan orang. Ada rasa cemas yang selalu membayanginya setiap kali ia pulang. Rasa cemas yang entah sampai kapan bisa dilepaskannya.

Rasa cemas ketika ia harus bertemu dengan orang-orang di desanya. Atau ketika ia menghadapi pikirannya sendiri yang masih saja belum bisa lepas dari bayang-bayang masa lalunya. Rasa cemas yang kadang berubah menjadi rasa takut yang teramat luar biasa bagi Sundari.

Semua pakaian dan beberapa barang lain masuk juga ke dalam tas. Tapi Sundari teringat masih ada satu barang yang belum dimasukkannya. Ia pun membuka lemari. Diambilnya sebuah buku harian miliknya. Namun ia sejenak ragu, apakah barang itu perlu dibawanya atau tidak.

Dan buku itu diletakkannya saja di atas meja yang ada di dekat lemari. Sundari pun duduk di tepi ranjangnya. Dinyalakannya radio dan sebuah lagu era 90-an mengalun lembut, suara alto yang merdu mengalir dari pita suara Iga Mawarni.

Entah mengapa hatiku
Kini ku ingin sendiri
Tak ingin aku berkawan lagi
Selain denganmu

Sejak pertama bertemu
Hatiku mulai resah
Gelisah menyapa
Rindu yang menggoda
Di hatiku ini

***

Matahari berada di sisi barat langit Desa Kemiri, panasnya sudah mulai berkurang. Angin sore perlahan bertiup. Dua wanita kakak beradik masing-masing menggenggam sapu lidi,  membersihkan halaman depan sebuah rumah. Daun-daun kering yang  berserakan mulai terkumpul di pojok halaman.

                “Akhirnya selesai juga nyapunya,” kata Sutari sambil menyeka keringat yang melumuri dahinya.

               “Sekalian ambil korek di dapur, Dik. Biar sampahnya langsung dibakar sekarang,” timpal Sundari. Tanpa berkomentar, Sutari bergegas menuju ke dapur mengambil korek api. Sementara Sundari berjalan menuju bangku panjang yang ada di depan rumah, lalu duduk melepas lelah di sana menikmati angin sore yang cukup segar dan menghilangkan hawa gerah di tubuh.

Dari dalam rumah, Sutari keluar menuju pojok halaman. Dibakarnya tumpukan daun kering. Asap tipis mulai mengepul. Lalu ia berjalan menuju bangku dan duduk di samping kakaknya sambil tetap mengawasi sampah yang sedang dibakarnya.

***

Ataukah semua ini
Karena aku kasmaran
Bagaimanakah cara aku untuk menghindarinya
Ataukah mungkin aku telah jatuh cinta

Refrein lagu Kasmaran baru saja berakhir. Lagu-lagu nostalgia terus terdengar dari radio, dan sepertinya mampu membawa angan Sundari ke masa-masa lalunya.

Masa lalu. Dua buah kata yang jika bisa Sundari ingin hapuskan dari ingatannya, walau ia tahu pasti itu sukar bahkan mustahil. Jejak yang ditinggalkan oleh masa lalu itu begitu perih dan membekas di hatinya.

Waktu terus beranjak. Malam terus menggelap. Sundari mematikan radionya, dan membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Tubuh yang semakin menua dan lelah oleh beratnya beban hidup. Kehadiran Satriyo mungkin satu-satunya hal yang bisa sedikit mengurangi beban itu. Ah, sudahlah. Sundari  segera memejamkan mata, walau tidak bisa langsung terlelap.

***


“Jam berapa sekarang?” tanya Sundari.

“Lima lebih. Hampir setengah enam,” jawab Sutari.

“Kok Mas Bas belum pulang ya.”

“Wah, saya juga mau nanya itu. Mmm ... tadi Mas Bas apa bilang mau pulang telat atau gimana Mbak?”

“Nggak bilang apa-apa. Lha memang siang tadi Mas Bas mau pergi ke rumah Pak Lik Aji. Tapi katanya cuma sebentar saja, terus langsung pulang.”

“Apa mungkin dari sana Mas Bas latihan dulu sama kelompok kethopraknya?”

“Ndak tau kalo itu. Tapi kayaknya sih ndak ke sana, soalnya minggu-minggu ke depan masih belum ada kegiatan manggung. Mmm ... Kok perasaanku agak ndak enak ya.”

Sementara kakak beradik Sundari dan Sutari masih berbincang, dari jauh nampak ayah mereka datang dengan sepeda. Tak seperti biasanya, kali ini lelaki itu juga agak telat pulang dari berjualan di pasar.

“Tumben telat, Pak’e?”

“Eh, anu. Mmm...  Emak kalian dimana?”

“Ada di dalam.”

Emak muncul dari dalam rumah, bergabung dengan ketiga orang.

                “Ada apa, Pak? Kok kelihatan gugup begitu.”
            
             “Ini. Tadi sepulang dari pasar aku lihat ada ramai-ramai di balai desa.”

“Ramai-ramai apa, Pak’e?

“Aku tanya sama orang-orang di situ. Katanya baru saja Baskoro dibawa ke kantor polisi. Entah ada masalah apa ...”


“Mas Bas ditangkap polisi? Ada apa Pak’e?” tanya Sundari terkejut mendengar kabar tentang suaminya itu.

Minggu, 02 Februari 2014

Asmaradana Terlarang (16)


Sebuah perahu kayu yang berukuran tidak terlalu besar tampak di kejauhan sana bergerak perlahan menuju bibir pantai. Sayup terdengar suara mesin perahu yang berbaur dengan suara ombak. Tampak tiga orang ada di atas perahu tersebut, satu di antaranya adalah wanita. Matahari sudah berada di langit barat, dan sepertinya tak lama lagi akan segera tenggelam.

Dan tak berapa lama kemudian perahu itu pun tiba di tepi pantai.

“Sekarang kita sudah sampai. Ini yang namanya pulau karimun jawa,” kata salah seorang pria yang umurnya sekitar empat puluhan.

“Wah, bagus sekali. Rasanya seperti mimpi saja, “ucap Sundari.

“Nah, kalian silakan turun. Boleh jalan-jalan sebentar di sekitar sini, tapi jangan jauh-jauh. Aku langsung ke rumah yang itu buat beres-beres dulu.”

“Baik, Pak Slamet. Aku dan Sundari mau menikmati suasana sore di pantai ini. Nanti kami segera menyusul, “jawab Baskoro.

Dan pria yang bernama Pak Slamet itu pun bergegas meninggalkan Baskoro dan Sundari, dua sejoli yang baru saja menjadi pengantin beberapa hari yang lalu tersebut.

“Benar-benar indah pulaunya, Mas Bas!”

“Aku juga ndak menyangka ada tempat seindah ini. Seharian di atas perahu, rasa lelahnya kayaknya langsung hilang begitu sampai disini.”

“Iya .... Tapi kok Mas Bas bisa punya rencana datang ke sini?”

“Aku? Hahaha ... Wah, ini bukan rencanaku. Lik Aji yang mempersiapkan semua acara bulan madu kita di pulau ini. Sebenarnya aku sudah menolak, tapi Lik Aji memaksa. Dan kalau dia sudah memaksa kayak gitu, aku ndak berani membantahnya.”

“Ooo ... “

“Yo wis, yuk kita duduk di bawah pohon kelapa itu!”

Keduanya pun berjalan beriringan, bergandengan tangan menuju salah satu pohon kelapa yang ada di pantai itu. Kedua pasang kaki mereka pun melangkah dan meninggalkan jejak di pasir-pasir berwarna putih dan lembut. Baskoro kemudian duduk bersandar pada batang pohon. Sementara istrinya duduk merapat di sampingnya sambil menyandarkan kepalanya di pundak pemuda berambut gondrong itu.

Angin senja bertiup perlahan, menyibak daun-daun kelapa yang kemudian saling bergesek dan berdesik. Camar-camar laut sesekali masih terlihat terbang berputar-putar di atas laut, bersuit bersahutan dan sesekali menukik tajam ke air menangkap ikan buruannya. Sementara gulung demi gulung ombak susul-menyusul berkejaran menghampiri tepian pulau karimun.


“Lihat matahari di sana, Ndari!” tanya Baskoro sambil membelai rambut Sundari.

“Iya, Mas. Ada Apa dengan mataharinya?”

“Apa yang akan kamu katakan tentang matahari itu?”

“Hmmm ... apa ya? Bulat ...”

“Sebulat cintaku padamu!”

Sundari tersenyum mendengar perkataan suaminya yang tiba-tiba itu.

“Iya bulat. Selain bulat juga merah, Mas!”

“Semerah tekadku juga untuk membahagiakanmu!”
Sundari tertawa kecil.

“Benar itu Mas?”

“Lho, kamu ndak percaya...”

“Percaya kok, Mas Bas. Percaya .... Mmm, ... aku suka warna langitnya. Kuning keemasan, bercampur merah, jingga. Cantik, pokonya cantik sekali!”

“Sama seperti kamu. Cantik sekali,” sahut Baskoro sambil mendaratkan sebuah kecupan di kening Sundari.

Sundari yang tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan itu, serta-merta langsung terkejut. Dan wajahnya pun sontak merona merah.

“Ah, Mas Bas. Jadi malu ah ...”

“Malu? Malu sama siapa? Lha wong ndak ada orang dari tadi. Cuma kita berdua saja di sini.”

“Lha nanti kalo dilihat Pak Slamet, apa ndak malu?”

“Memang kenapa kok malu? Pak Slamet pasti bisa memaklumi. Lha wong dia juga tentunya pernah muda, sama seperti kita”

Keduanya terus berbincang sambil menikmati indahnya pantai karimun jawa. Matahari sudah separo lingkaran tenggelam di laut sebelah barat. Perlahan semakin turun, hingga akhirnya menghilang di balik cakrawala. Hanya sisa-sisa cahaya merah jingga yang masih menghiasi langit.

Dan tak jauh dari tempat mereka bercakap-cakap itu, nampaklah sinar lampu minyak yang menerobos keluar dari jendela sebuah rumah. Rumah yang terbuat dari kayu yang tak seberapa besar ukurannya. Beberapa saat kemudian seorang lelaki empat puluhan keluar dari pintu rumah.

“Baskoro, Sundari. Ayo masuk sini! Hari sudah mulai gelap ini ...”

“Iya Pak Slamet,” jawab Baskoro dan Sundari hampir bersamaan.

Lalu keduanya berjalan menuju rumah itu.